Warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung dikejutkan oleh suara dentuman dan getaran pada 5 September 2026. Badan Geologi awalnya menduga kuat fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Gunungapi Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Berdasarkan Laporan Khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh mulai 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Badan Geologi menyebut fenomena ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur. Suara dentuman yang dilaporkan masyarakat di Jabar, Banten, dan Lampung pun diasosiasikan dengan erupsi tersebut.
Namun, dugaan tersebut langsung dibantah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan adanya hubungan kausalitas dengan dentuman yang terdengar di wilayah Bandung.
Menurut Suaidi, jarak geografis yang terlalu jauh membuat suara letusan gunung berapi tersebut tidak logis jika bisa terdengar sampai ke Kota Bandung. Ia menjelaskan, fenomena dentuman dapat disebabkan oleh sejumlah aktivitas geofisika lokal, di antaranya swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, maupun gempa yang dipicu oleh runtuhan.
Ia mencontohkan, fenomena serupa sebelumnya juga pernah terdengar di wilayah Cianjur, termasuk saat terjadi rentetan gempa Cianjur pada tahun 2025.
“Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman,” katanya, dikutip Antara, 5 September 2026.
Terlepas dari silang pendapat mengenai sumber dentuman di Jawa Barat, Badan Geologi tetap mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau yang saat ini berstatus Siaga (Level III).
















