• Tentang Kami
  • Layanan Iklan
  • Hubungi Kami
Jumat, 04 September 2026
Intiporia
Kirim Artikel
  • Sekilas
  • Tren
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Gelaran Kesenian Tarawangsa di Sumedang - Dok. Intiporia

    Menyelisik Magisnya Tarawangsa: Dari Dawai Penolak Bala hingga Jurus Bertahan di Era TikTok

    Papan peringatan di Jembatan Gantung Pongpet di Pangandaran yang dipasang untuk memperhatikan keselamatan (dok TNI AD) via Detik

    TNI AD Ungkap Fakta Jembatan Pongpet Oleng Kelebihan Muatan, Begini Kabar Bupati Pangandaran Usai Insiden

    Mahasiswa KKN ajukan Program Air Bersih - Dok. Intiporia

    Fasilitasi Pengajuan Program Air Bersih dan Toren di Desa Sukahaji, Ini Cara Mahasiswa KKN Universitas Kartamulia Purwakarta

    Kalimantan

    Menguji Tuah Helikopter dan Janji Pemadaman Prabowo di Langit Kalimantan

    Budaya Sunda di Desa Cicadas - Dok. Intiporia

    Angkat Budaya Sunda, Desa Cicadas Meriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

    ilustrasi partai politik dan kemerdekaan

    Tradisi Politik Kita Sejak 1945: Merdeka, Bikin Partai, Lalu Pecah Kongsi?

    Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas

    Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas

    The Odyssey | Official Trailer - Tangkapan Layar/UIP Movies Indonesia

    Pandangan Dualisme dan Feminisme pada Karakter Circe di Film The Odyssey (2026)

    Politeknik Jatiluhur

    Politeknik Jatiluhur Sosialisasikan Literasi Digital bagi Keluarga PKH

  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
No Result
View All Result
Intiporia
  • Sekilas
  • Tren
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Gelaran Kesenian Tarawangsa di Sumedang - Dok. Intiporia

    Menyelisik Magisnya Tarawangsa: Dari Dawai Penolak Bala hingga Jurus Bertahan di Era TikTok

    Papan peringatan di Jembatan Gantung Pongpet di Pangandaran yang dipasang untuk memperhatikan keselamatan (dok TNI AD) via Detik

    TNI AD Ungkap Fakta Jembatan Pongpet Oleng Kelebihan Muatan, Begini Kabar Bupati Pangandaran Usai Insiden

    Mahasiswa KKN ajukan Program Air Bersih - Dok. Intiporia

    Fasilitasi Pengajuan Program Air Bersih dan Toren di Desa Sukahaji, Ini Cara Mahasiswa KKN Universitas Kartamulia Purwakarta

    Kalimantan

    Menguji Tuah Helikopter dan Janji Pemadaman Prabowo di Langit Kalimantan

    Budaya Sunda di Desa Cicadas - Dok. Intiporia

    Angkat Budaya Sunda, Desa Cicadas Meriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

    ilustrasi partai politik dan kemerdekaan

    Tradisi Politik Kita Sejak 1945: Merdeka, Bikin Partai, Lalu Pecah Kongsi?

    Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas

    Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas

    The Odyssey | Official Trailer - Tangkapan Layar/UIP Movies Indonesia

    Pandangan Dualisme dan Feminisme pada Karakter Circe di Film The Odyssey (2026)

    Politeknik Jatiluhur

    Politeknik Jatiluhur Sosialisasikan Literasi Digital bagi Keluarga PKH

  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Intiporia
  • Sekilas
  • Tren
  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Home Esai

Menyelisik Magisnya Tarawangsa: Dari Dawai Penolak Bala hingga Jurus Bertahan di Era TikTok

Raka Purnama by Raka Purnama
4 September 2026
in Esai, Budaya
Gelaran Kesenian Tarawangsa di Sumedang - Dok. Intiporia

Gelaran Kesenian Tarawangsa di Sumedang - Dok. Intiporia

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Linkedin

Bayangkan sebuah malam di tatar Pasundan, suara gesekan kawat baja yang mengalun lirih membelah kesunyian. Tidak ada ingar-bingar alat musik modern, yang ada hanya resonansi mistis yang dipercaya mampu menembus dimensi lain. Inilah Tarawangsa, sebuah kesenian kuno yang tak sekadar urusan memetik dawai, tapi juga soal lobi-lobi spiritual dengan alam dan Sang Pencipta.

Namun, di tengah gempuran tren media sosial dan modernisasi, bagaimana sebuah ritual tua bisa bertahan hidup? Usut punya usut, jawabannya ada pada kompromi dan inovasi.

BACA JUGA

Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period

Angkat Budaya Sunda, Desa Cicadas Meriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Bicara soal Tarawangsa, kita sedang membicarakan fondasi spiritual masyarakat agraris. Mengutip riset yang ditulis oleh Atang Suryaman, dkk (2023), secara etimologis istilah Tarawangsa memiliki makna filosofis yang sangat dalam, yakni narawang kanu kawasa atau menerawang kepada Sang Kuasa.

Pada masa lampau, kesenian ini konon lahir di kalangan menak dan lekat dengan sebutan Swara Tan Katingalan Lan Papan, yang berarti suara yang tidak terlihat. Di wilayah Rancakalong, Kabupaten Sumedang, kesenian ini adalah denyut nadi para petani.

Merujuk pada jurnal yang ditulis oleh Azizi Maulana, dkk (2023), Tarawangsa di Rancakalong merepresentasikan corak sosial ekonomi agraris dan dijaga ketat oleh 5 rurukan (organisasi adat petani). Di sana, tarian para perempuan yang membentuk formasi melingkar bukan sekadar koreografi estetis, melainkan representasi Axismundi—konsep poros bumi yang menjadi pusat kekuatan dan koneksi dengan dunia spiritual.

Meski namanya sama, wujud fisik Tarawangsa ternyata punya “spesifikasi” yang berbeda tergantung dari mana ia berasal. Tarawangsa di Rancakalong dimainkan dengan alat musik gesek berdawai dua (dari kawat baja/besi) yang dikawinkan dengan jentréng, yakni sejenis kecapi mungil berdawai tujuh. Beda ladang, beda belalang.

Di Banjaran (yang secara administratif kini masuk wilayah Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung), instrumen ini punya pasangannya sendiri. Tarawangsa Banjaran justru diiringi oleh kacapi dengan tujuh belas dawai, yang bentuknya sangat mirip dengan kacapi indung pada seni tembang Sunda Cianjuran. Bahkan, secara historis, Tarawangsa Banjaran pernah memiliki tiga dawai sebelum akhirnya versi dua dawailah yang lestari hingga hari ini.

Tarawangsa: Bukan Sekadar Konser, Tapi Jalur Terapi Sakit Medis

Jika Anda mengira Tarawangsa sekadar tontonan, Anda keliru. Kesenian ini adalah “p3k” spiritual masyarakat setempat. Di Banjaran, fungsinya membentang dari Hajat Lembur (syukuran panen tahunan) hingga Ngaruwat (menolak bala dan energi negatif). Fakta paling mencengangkan yang diungkap dalam sebuah penelitian adalah fungsi Tarawangsa sebagai medium penyembuhan orang sakit. Biasanya, ini terjadi pada mereka yang dahulu pernah menjadi pelaku seni Tarawangsa namun meninggalkannya. Pasien biasanya mendapat wangsit lewat mimpi untuk menggelar syukuran Tarawangsa demi kesembuhannya. Dalam ritual pengobatan ini, hadir seorang Laesan atau mediator yang menjembatani komunikasi antara manusia dan roh leluhur.

Kesakralan ini dijaga lewat aturan main yang ketat. Di Banjaran, dari total 42 lagu, terdapat 5 lagu paling sakral (Pangrajah, Takol dua, Pamapag, Ngemban-ngemban Dewi Sri, dan Panglima). Ketika kelima lagu ini dimainkan, penonton dilarang keras untuk ngibing (menari) apalagi bersorak, sebagai bentuk penghormatan absolut kepada Sang Pencipta dan leluhur.

Di sisi lain, prosesi di Rancakalong tak kalah magis. Runtutan acara yang bermula dari Ngukus (bakar kemenyan oleh kuncen), berlanjut ke sesi Nema di mana dua penari (saehu) laki-laki dan perempuan menari bergantian hingga trance (kesurupan), dan ditutup dengan Nginebkeun. Prosesi Nginebkeun ini memukau secara filosofis karena menggunakan sembilan wadah yang melambangkan 9 bulan proses kehidupan manusia di dalam kandungan sebelum lahir ke dunia. Mendobrak Tabu Tradisi Demi Bertahan HidupSebuah mahakarya budaya pada akhirnya harus berhadapan dengan monster bernama kepunahan. Di Banjaran, Tarawangsa nyaris tinggal nama dan sempat mengalami masa vakum yang menyedihkan pada tahun 2007 hingga 2008. Penyebabnya? Aturan konservatif.

Dalam sebuah catatan, pada masa lalu ada aturan ketat bahwa yang boleh menjadi pewaris atau pemain Tarawangsa Banjaran hanyalah mereka yang memiliki ikatan pertalian darah dengan seniman pendahulunya. Aturan ini mematikan regenerasi. Beruntung, sebuah kelompok bernama Padepokan Pusaka Lembur berani mendobrak tabu tersebut, menghapus syarat ikatan darah, sehingga anak muda mana pun kini bebas memeluk dan mempelajari warisan leluhurnya.

Di tempat lain, masyarakat Rancakalong memilih jalur digital. Preservasi budaya ini digenjot melalui pembuatan produksi video dokumenter. Lewat tahapan praproduksi yang matang hingga penayangan di platform media sosial seperti YouTube dan Instagram, Tarawangsa diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang ramah bagi generasi Gen-Z dan milenial.

Pada akhirnya, kisah Tarawangsa di Jawa Barat mengajarkan satu hukum alam yang absolut: tradisi tidak bertahan dengan cara mengurung diri di dalam kotak kaca museum. Ia hidup karena masyarakat pendukungnya mau beradaptasi—entah itu dengan meruntuhkan birokrasi darah keturunan seperti di Banjaran, atau dengan memeluk erat teknologi digital seperti di Rancakalong

Tags: Jawa BaratKeseniansundaTarawangsa
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.

Related Posts

Langit Biru- Foto oleh Jelleke Vanooteghem di Unsplash
Esai

Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period

4 September 2026
Budaya Sunda di Desa Cicadas - Dok. Intiporia
Budaya

Angkat Budaya Sunda, Desa Cicadas Meriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

22 Agustus 2026
ilustrasi partai politik dan kemerdekaan
Esai

Tradisi Politik Kita Sejak 1945: Merdeka, Bikin Partai, Lalu Pecah Kongsi?

15 Agustus 2026
Ilustrasi Pinjaman Online - Gambar (Magnific/rawpixel.com)
Esai

Fenomena Pinjaman Online dan Gaya Hidup Konsumtif dalam Perspektif Stoikisme

4 Agustus 2026
Festival Mendongeng Suara Nusantara Hadir di Jawa Barat
Komunitas

Masih Dibuka! Festival Mendongeng Suara Nusantara Hadir di Jawa Barat, Ajak Generasi Muda Hidupkan Kembali Legenda Rakyat

4 Agustus 2026
Liputan Intiporia di Pasar Sasagaran - Dok. Intiporia
Budaya

Pasar Sasagaran: Oase Kuliner Tradisional dan Wisata Sejarah di Jantung Bungursari

23 Juni 2026
Next Post
Pupuk

Mengukur Langkah Pupuk Indonesia di Vladivostok

  • Pertarungan di Naruto Shippuden

    15 Episode Naruto Paling Sedih yang Membekas di Generasi 2000-an

    966 shares
    Share 386 Tweet 242
  • Sejarah Lengkap Klan Otsutsuki dari Awal hingga Boruto

    698 shares
    Share 279 Tweet 175
  • 7 Transformasi Sakura Haruno yang Memukau di Shippuden

    672 shares
    Share 269 Tweet 168
  • Sejarah Baru pada Logo Persib Bandung, Empat Bintang Bersinar!

    711 shares
    Share 284 Tweet 178
  • Semua Bentuk Susanoo: Ranking dari Terlemah hingga Terkuat

    684 shares
    Share 274 Tweet 171
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Creative Intiporia
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Creative Intiporia
  • Hubungi Kami

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan