Tokoh perempuan yang hidup tanpa belas kasih patriarki sering kali dikutuk menjadi monster dalam narasi kuno. Bayangkan, ada berapa banyak perempuan yang memiliki kekuatan, kemampuan, dan kuasa atas dirinya dalam karya sastra sejarah yang tidak diakhiri dengan label seorang “Wicked Witch?”
Ketika mendengar nama Christopher Nolan akan menggarap The Odyssey (2026), muncul kekhawatiran dari beberapa penggemar mitologi Yunani di sosial media yang tertuju pada salah satu karakter, Circe (Samantha Morton). Karakter ini, kerap menjadi korban mischaracterization dalam film adaptasi karena kompleksitasnya.
Dalam karya epik Homer berjudul The Odyssey, Circe adalah seorang penyihir yang tinggal di pulau Aeaea. Ia merupakan putri dari dewa matahari Helios, dan nimfa Perse yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir. Akibat ilmu sihir yang dimilikinya, para dewa Olympus sepakat untuk menjatuhkan hukuman dengan cara mengasingkan Circe (Samantha Morton) jauh dari istana ke pulau Aeaea.
Dalam berbagai adaptasi layar lebar, Circe hampir selalu dipangkas menjadi sosok penyihir seductive dan manipulatif. Namun, apa yang dihadirkan Nolan justru menjadi representasi baru bagi karakter ini. Alih alih mempermainkan laki laki demi kesenangan, Circe (Samantha Morton) dalam film Nolan digambarkan sebagai karakter yang bertindak atas dasar kemarahan mendalam terhadap kekerasan dan agresi para pria.
Transformasi para prajurit menjadi babi oleh Circe (Samantha Morton) ditampilkan dengan body horror yang mengerikan, seperti daging yang bergeser, tulang yang patah dan terbentuk kembali, serta jeritan manusia yang menjadi dengkur binatang sebenarnya bukanlah tindakan yang muncul tanpa sengaja, melainkan respon Circe (Samantha Morton) sebagai bentuk pertahanan otonomi atas keamanan dirinya sekaligus penelanjangan sifat asli manusia yang memisahkan antara tubuh dan spirit mereka. Di sinilah lensa filosofis Dualisme Cartesian dari René Descartes hadir untuk membedah fenomena tersebut.
Dalam filsafat Dualisme Cartesian, manusia dipahami terdiri dari dua zat yang berbeda, yaitu tubuh atau res extensa dan jiwa atau res cogitans. Tubuh hanyalah cangkang materi, sementara jiwa adalah inti dari identitas, moralitas, dan kesadaran seseorang.
Ketika rombongan prajurit Odysseus (Matt Damon) mendarat di pulau Aiaia, mereka datang membawa rasa lapar, kerakusan, nafsu, dan keliaran yang tersembunyi jauh di balik topeng armor serta gelar pahlawan perang mereka. Circe (Samantha Morton) tidak mengubah jiwa mereka, melainkan hanya menelanjangi ilusi fisik yang muncul pada diri prajurit tersebut. Sifat babi yang selalu digambarkan sebagai sosok yang serakah, rakus, penuh nafsu, dan dituntun oleh insting hewani, sejak awal sudah bersatu dengan mentalitas para prajurit prajurit Odysseus (Matt Damon).
Secara filosofis hal ini dapat dikaitkan bahwa sihir Circe (Samantha Morton) bertindak sebagai refleksi yang menyesuaikan antara bentuk fisik para prajurit agar selaras dengan kondisi jiwa mereka yang sebenarnya. Dialog yang diucapkan Circe (Samantha Morton) saat mengubah kawanan babi kembali menjadi sekelompok prajurit, sukses membuat suasana mencekam bagi penonton:
“Now go back to your disguises.”
Kalimat di atas menjadi bagian yang sangat krusial bagi karakteristik Circe (Samantha Morton) dari dalam lensa Dualisme itu sendiri. Pemisahan bentuk antara jiwa dan fisik ini, secara sengaja dilakukan oleh Circe (Samantha Morton) karena menurutnya wujud gagah mereka sebagai manusia hanyalah penyamaran materi untuk menutupi kebusukan jiwa yang sejatinya sudah berkarakter layaknya babi sedari awal. Transformasi fisik tersebut tidaklah mengubah identitas mereka, melainkan simbol bahwa ketika cangkang fisik dihancurkan, jiwa lah yang mendikte wujud nyata seorang manusia.
Di luar dari dimensi filosofis jiwa dan raga, tindakan Circe (Samantha Morton) memegang peranan fundamental dalam kerangka feminisme. Khususnya mengenai hak atas kedaulatan dan otonomi tubuh akan rasa aman. Sastra klasik kerap mendemonisasi perempuan yang menolak untuk tunduk sebagai sosok yang miserable, namun film ini mengkontekstualisasikan ulang tindakan Circe (Samantha Morton) sebagai bentuk pertahanan yang rasional.
Pulai Aiaia adalah ruang aman bagi Circe untuk hidup di pengasingan sendiri. Kedatangan sekelompok prajurit asing yang terbiasa menjarah, dan melakukan kekerasan di peperangan merupakan ancaman bagi Circe (Samantha Morton). Ketika Odysseus (Matt Damon) mempertanyakan alasan di balik tindakannya mengubah para prajurit menjadi sekumpulan babi, Circe (Samantha Morton) menjawab:
“They could have hurt me.”
Pernyataannya menjelaskan bahwa tindakan mengubah prajurit prajurit tersebut menjadi hewan adalah bentuk dari perlindungan otonomi tubuh dirinya. Circe (Samantha Morton) dapat melihat dan merasakan ancaman potensi bahaya yang dibawa oleh sekelompok prajurit setelah perang, ia menolak subordinasi, dan menuntut Odysseus untuk menyadari posisi serta potensi bahaya yang dibawa oleh pasukannya sendiri, sebelum pada akhirnya dikembalikan ke bentuk asal mereka sebagai manusia.
Pada akhirnya melalui lensa Dualisme dan Feminisme, karakter Circe (Samantha Morton) dalam film The Odyssey (2026) garapan Christopher Nolan berhasil keluar dari cangkang narasi klasik. Melalui lensa Dualisme Cartesian, sihir Circe (Samantha Morton) merepresentasikan bahwa tubuh fisik atau res extensa manusia kerap menjadi topeng penyamaran yang membohongi realitas.
Dengan meruntuhkan cangkang fisik para prajurit menjadi wujud babi, ia membuktikan bahwa hakikat manusia tidak ditentukan oleh wujud lahiriahnya, melainkan oleh kondisi moral jiwanya res cogitans. Sementara itu, melalui lensa Feminisme, transformasi horor tersebut merupakan sebuah respon pertahanan otonomi tubuh yang mutlak di tengah potensi ancaman bagi Circe.
















