Jika ada penghargaan untuk simulasi bertahan hidup paling niat di era modern, masyarakat Sumatera bagian utara (Sumbagut) pantas naik podium minggu ini. Sejak Jumat, 22 Mei 2026 petang, jutaan warga di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, hingga Jambi dipaksa mengikuti digital detox jalur mandiri. Bukan karena kesadaran spiritual, melainkan karena sistem kelistrikan kita sukses mempersembahkan sebuah mahakarya berjudul: Blackout Total.
Bagi warga kelas menengah di Jakarta, mati lampu satu-dua jam mungkin cuma sekadar bahan update status dengan caption keluhan estetis. Tapi kalau matinya sampai dua hari dua malam di hamparan pulau sebesar Sumatera? Itu bukan lagi insiden teknis. Itu simulasi kiamat kecil yang membedah betapa rapuhnya urat nadi kehidupan kita jika tidak disusui oleh setrum.
Ketika listrik padam total, efek dominonya jauh lebih mengerikan dari sekadar kipas angin yang berhenti berputar. Jaringan telekomunikasi langsung sekarat. Lampu lalu lintas mati berjemaah, menyulap persimpangan jalan menjadi arena adu mekanik antar-pengendara yang berujung stagnan berjam-jam.
Di tengah kekacauan, selalu ada ruang untuk absurditas khas warga +62. Lini masa media sosial sempat diramaikan oleh kisah nekat seorang warga yang membawa blender ke dalam bilik ATM. Tujuannya sangat mulia: numpang colok listrik demi menggiling bumbu dapur. Sebuah inovasi bertahan hidup yang membuktikan bahwa urusan perut tak bisa disuruh pending menunggu evaluasi.
Ada pula cerita ibu-ibu yang terpaksa check-in hotel dadakan demi menyelamatkan bayinya yang menangis semalaman menahan gerah. Sementara di luar sana, warga berburu lilin dari warung ke warung hingga komoditas sumbu ini ludes seketika.
Di level akar rumput, padamnya listrik ini bukan cuma soal gelap, tapi soal isi dompet yang diperas habis-habisan.
Para peternak dan petambak menjerit ngeri. Ayam-ayam mati kepanasan di kandang, ikan-ikan mengapung pasrah di kolam karena mesin aerator mogok kerja. Di Deli Serdang, ibu-ibu harus merelakan stok pangan segar—daging, ikan, buah, sayur—berakhir di tong sampah karena membusuk di dalam kulkas setelah 24 jam tak tersentuh listrik.
”Kalau dihitung kerugian orang per orang akibat padam listrik di Sumatera bagian utara,” kata ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Murbanto Sinaga, Senin (25/5/2026), ”nilainya pasti sangat-sangat besar.”
Dunia usaha, baik raksasa maupun gurem, sama-sama babak belur. Dunia industri, khususnya pabrik karet remah, terpaksa berhenti beroperasi. Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, memberikan gambaran betapa pusingnya para pengusaha saat dipaksa memilih antara mesin yang mati atau biaya yang membengkak karena solar industri menyentuh angka Rp 30.000 per liter.
”Saat ini, harga solar industri juga sedang meroket. Beberapa pabrik memilih berhenti beroperasi sepanjang Sabtu (23/5) untuk menghindari kerugian yang semakin dalam,” kata Edy.
Namun, dari semua kerugian materi itu, ada realitas yang jauh lebih menyesakkan dada. Di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, dua pegawai toko meninggal dunia dan dua lainnya kritis. Di Sumatera Barat, dua remaja juga menjemput ajal. Penyebabnya sama: keracunan asap genset. Mereka hanya ingin menerangi malam dan menyambung hidup, namun justru maut yang datang dari balik kepulan asap mesin berbahan bakar itu.
Lalu, apa kata pemerintah dan PT PLN (Persero) tentang penderitaan massal ini?
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN, Edwin Nugraha Putra, tampil dengan penjelasan teknis. Menurutnya, dua koridor SUTET yang menyuplai daya dari Sumatera bagian selatan ke utara putus total pada Jumat pukul 18.44 gara-gara—silakan tebak—diduga karena cuaca buruk. Ya, cuaca buruk selalu menjadi kambing hitam favorit.
PLN mengklaim mereka sudah bekerja keras. Pada Minggu (24/5/2026) pagi, listrik diklaim sudah menyala semua, meski akhirnya pemadaman bergilir tetap dilakukan karena masih kurang pasokan 200-300 megawatt. Alasannya, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) butuh waktu panjang untuk pemanasan.
”PLTU yang menggunakan batubara bisa beroperasi lagi setelah 20-30 jam,” kata Edwin menjelaskan situasinya.
”Pada Senin ini, pembangkit besar seperti PLTU Pangkalan Susu di Langkat sudah beroperasi dan masuk ke sistem.”
Untuk masa depan, PLN berjanji akan menggunakan perangkat sinar inframerah guna mengecek kondisi kabel transmisi. Kalau kabelnya retas dan suhunya beda, akan ketahuan.
Terdengar sangat canggih dan meyakinkan. Tapi, meminjam kacamata Murbanto Sinaga, tragedi ini menunjukkan borok manajemen krisis yang sangat fatal.
”Kita bisa melihat bahwa pemerintah jelas tidak siap mengatasi persoalan seperti blackout listrik Sumbagut,” tegas Murbanto.
Tragedi ini terlalu mahal jika hanya menguap menjadi catatan kaki evaluasi tanpa ada perubahan drastis. Pemerintah memang harus mengambil tindakan darurat. Dan seperti yang diperingatkan oleh Murbanto, ”Selain itu, langkah jangka panjang juga harus disiapkan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.”
Sebab pada akhirnya, kerugian ekonomi pabrik dan UMKM mungkin perlahan bisa ditambal, tapi nyawa warga yang melayang karena asap genset di tengah kegelapan, selamanya tak akan pernah bisa dihidupkan ulang.
















