Transformasi panjang layanan kereta api tanah air kini tengah diuji oleh tragedi memilukan di Bekasi Timur yang merenggut belasan nyawa.
Anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian merespons keras insiden tersebut dengan mendesak pemerintah agar mengambil tindakan tanpa kompromi terhadap perusahaan Green SM atau yang dikenal sebagai “taksi hijau”.
Kawendra menengarai bahwa kendaraan dari penyedia jasa transportasi tersebut menjadi pemicu utama yang mengawali rangkaian kecelakaan fatal tersebut.
Bagi Kawendra, apa yang terjadi di perlintasan sebidang JPL 85 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa. Ia menyoroti adanya pola kelalaian yang berulang dari armada perusahaan tersebut berdasarkan laporan yang masuk.
“Ini bukan sekadar insiden tunggal, sudah beberapa kali terhenti di perlintasan kereta api dan banyak aduan masyarakat terkait taksi ini,” ujar Kawendra di Jakarta, dilansir dari Antara, 29 April 2026.
Geramnya Kawendra bukan tanpa alasan. Sebagai saksi sejarah yang merasakan sulitnya membenahi sistem perkeretaapian Jabodetabek sejak era 2006, ia merasa kerja keras PT KAI selama bertahun-tahun tidak boleh dirusak oleh kecerobohan pihak luar.
Dengan nada tegas, ia meminta otoritas terkait untuk segera meninjau ulang eksistensi perusahaan taksi asal Vietnam tersebut di Indonesia.
“Rasanya tidak berlebihan bila kita meminta pemerintah untuk mengevaluasi dan mencabut izin operasional perusahaan taksi asal Vietnam tersebut,” tuturnya.
Meski menuntut langkah represif terhadap pihak perusahaan, Kawendra tetap menyampaikan rasa duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedi ini.
Ia menyebut peristiwa ini sebagai titik nadir yang sangat memilukan bagi publik. “Insyaallah, para korban khusnul khotimah dan yang terluka diberi kekuatan,” ucapnya.
Berdasarkan data terkini dari Polda Metro Jaya, jumlah korban tewas dalam tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line tersebut mencapai 15 orang. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, merinci bahwa 10 jenazah berada di RS Polri, sementara sisanya tersebar di RSUD Bekasi, RSU Bella, dan RS Mitra Keluarga. Selain korban jiwa, tercatat sebanyak 76 orang mengalami luka-luka dan masih dalam penanganan medis intensif.

















