“Diskon berakhir malam ini!”, “Beli sekarang, bayar nanti!”, atau “Cicilan mulai Rp0”.
Pesan-pesan persuasif dari platform e-commerce kini telah menjadi bagian dari keseharian konsumen. Narasi promosi yang dirancang secara strategis, khususnya menjelang akhir bulan atau saat timbul impuls berbelanja, efektif memicu keputusan bertransaksi dalam waktu singkat.
Kalimat-kalimat provokatif itu hampir setiap hari berseliweran di layar ponsel kita. Pemasaran layanan pinjaman online berulang kali menawarkan kemudahan aksesibilitas serta pemenuhan kebutuhan finansial secara instan. Kemudahan akses pinjaman online (pinjol) dan fitur Buy Now, Pay Later (BNPL) tersebut perlahan mengubah pola hidup masyarakat. Berbelanja kini tak lagi bergantung pada ada atau tidaknya uang di dompet, melainkan pada keyakinan bahwa pembayaran bisa dipikirkan belakangan.
Secara ekonomi, kehadiran teknologi finansial (fintech) memang memberi angin segar, mulai dari kemudahan akses modal usaha kecil hingga transaksi harian. Namun, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa nilai pembiayaan fintech peer-to-peer lending di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Buktinya, uang yang dipinjam masyarakat lewat aplikasi melonjak dari Rp82,59 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp103,73 triliun pada Mei 2026.
Namun, mayoritas uang tersebut, sekitar 66,30%, habis dipakai untuk belanja barang konsumtif dan gaya hidup, bukan modal usaha, sehingga membuat jumlah orang yang gagal bayar atau utangnya macet naik menjadi 4,42%. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan perkembangan teknologi, tetapi juga mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa manusia begitu mudah tergoda untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan?
Teknologi finansial pada dasarnya adalah instrumen yang netral. Namun, masalah timbul saat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin tidak jelas. Layanan cicilan digital sering kali memberikan keyakinan bahwa konsumen memiliki kemampuan untuk membeli.
Pengaruh ini semakin meningkat akibat banyaknya konten media sosial yang secara konsisten menampilkan standar gaya hidup, tren, dan gawai mutakhir sebagai tolak ukur kesuksesan. Hal tersebut memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) serta peningkatan gengsi sosial. Alhasil, keputusan finansial dan penarikan pinjaman digital kerap kali diambil bukan atas dasar urgensi fungsi, melainkan demi memperoleh validasi sosial.
Merujuk pada Perspektif Stoikisme
Jika selama ini persoalan pinjaman online sering dibahas dari sisi ekonomi atau hukum, filsafat mengajak kita melihat akar persoalannya, yaitu bagaimana manusia memahami keinginan, kebebasan, dan kebahagiaan. Salah satu aliran filsafat yang relevan untuk memahami fenomena ini adalah Stoikisme, sebuah aliran yang berkembang di Yunani dan Romawi Kuno melalui pemikiran tokoh-tokoh seperti Epictetus dan Marcus Aurelius.
Pada konteks gaya hidup konsumtif, ajaran ini menjadi sangat relevan. Banyak keputusan membeli barang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk mengikuti tren, memperoleh pengakuan sosial, atau merasa setara dengan orang lain. Ketika seseorang membeli barang demi memenuhi ekspektasi lingkungan, sebenarnya ia sedang menyerahkan kendali atas kebahagiaannya kepada faktor-faktor eksternal.
Epictetus mengingatkan bahwa hal-hal dalam kendali kita adalah pikiran, keputusan, dan tindakan pribadi. Sebaliknya, hal-hal di luar kendali, seperti opini orang lain, tren, atau status sosial, tidak seharusnya menjadi sumber kebahagiaan. Senada dengan itu, Marcus Aurelius menekankan bahwa ketenangan hidup lahir dari penguasaan diri, bukan dari tumpukan barang yang nilainya tergerus zaman. Keinginan yang terus dituruti tanpa pertimbangan rasional hanya akan memberi kepuasan sesaat, sebelum akhirnya kita merasa kurang lagi dan terjebak dalam siklus utang yang tak pernah usai.
Pinjaman online hanyalah sebuah alat. Ia bisa sangat membantu jika digunakan secara bijak untuk modal usaha atau kebutuhan mendesak. Namun, ia bisa menjadi sarana kehancuran finansial jika diturutkan untuk memuaskan gengsi semata. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah pinjaman online, melainkan cara manusia memaknai kebutuhannya.
Oleh karena itu, menyelesaikan masalah perilaku konsumtif di masyarakat tidak cukup hanya dengan imbauan regulasi atau pengetatan aturan dari pemerintah. Solusi paling mendasar harus dimulai dari diri sendiri dengan membangun kesadaran finansial dan pengendalian emosi dalam mengambil keputusan.
Filsafat Stoikisme mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk membeli apa saja yang kita inginkan, melainkan kebijaksanaan untuk menahan diri dari hal-hal yang tak perlu.
Di tengah kemudahan teknologi yang menawarkan berbagai cara untuk berutang, tantangan terbesar manusia modern bukan lagi memperoleh akses terhadap uang, melainkan mengendalikan keinginan yang terus bertambah. Sebab pada akhirnya, orang yang benar-benar kaya bukanlah mereka yang punya segalanya, melainkan mereka yang tahu kapan harus merasa cukup.
Referensi: Epictetus. (2008). Enchiridion (E. Carter, Trans.). Cosimo Classics. (Original work published c. 125) Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays, Trans.). New York: The Modern Library. Otoritas Jasa Keuangan. (2026). Siaran Pers: Resiliensi dan Kinerja Intermediasi Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga (No. SP 115/DHMS/OJK/VII/2026). Diakses dari https://ojk.go.id
















