Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang semakin mengkhawatirkan. Meroketnya nilai tukar Dolar AS ini ternyata tidak hanya dipicu oleh tekanan ekonomi global, tetapi juga imbas dari sentimen negatif yang muncul di panggung domestik.
Berdasarkan pantauan pergerakan pasar valuta asing terkini dari Google Finance dan Morningstar, nilai tukar Rupiah telah merosot tajam hingga menyentuh level Rp17.721 per Dolar AS. Jika ditarik mundur ke pertengahan bulan lalu (19 April), posisi Rupiah masih berada di angka Rp17.133 per Dolar AS. Artinya, mata uang Garuda telah terdepresiasi nyaris Rp600 hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, secara gamblang menilai bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini turut memberikan sentimen negatif dan memicu persepsi buruk di kalangan pelaku pasar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo sempat melontarkan analogi bahwa masyarakat desa tidak terdampak oleh pelemahan Rupiah karena mereka tidak bertransaksi menggunakan Dolar AS.
“Pernyataan Presiden Prabowo yang terlihat seperti menganggap enteng penguatan dollar terhadap rupiah dan diumpamakan seperti orang kampung ya, orang desa yang tidak terpengaruh sama sekali karena tidak menggunakan dollar. Rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim memaparkan analisisnya, dikutip dari keterangannya kepada wartawan pada Senin lalu.
Efek Domino Impor Minyak dan ‘Panic Buying’ Valas
Selain sentimen dari pernyataan kepala negara, Ibrahim memaparkan bahwa pelemahan Rupiah saat ini adalah imbas dari efek domino faktor eksternal dan internal yang terjadi bersamaan. Dari luar negeri, keperkasaan Dolar AS beriringan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia.
Kondisi ini tentu menjadi pukulan telak bagi postur keuangan negara mengingat tingginya ketergantungan Indonesia pada energi impor.
“Kita tahu bahwa pada saat dollar mengalami penguatan, harga minyak mentah mengalami penguatan, kemudian berdampak terhadap impor minyak yang begitu besar 1,5 juta barrel per hari,” jelasnya.
Di sisi lain, tekanan dari dalam negeri juga memperparah situasi. Ibrahim menyebut siklus musiman pembagian dividen perusahaan turut menguras pasokan valuta asing di dalam negeri. Parahnya lagi, dinamika pasar ini mulai memicu perubahan perilaku di masyarakat luas yang berbondong-bondong memindahkan dana mereka demi mengamankan nilai aset.
“…kemudian masa dividen, kemudian masyarakat berpindah menabung dari tabungan rupiah menjadi valuta asing. Ini membuat rupiah terus mengalami pelemahan,” tegas Ibrahim membeberkan rentetan pemicu anjloknya nilai tukar.
Kombinasi antara sentimen negatif pasar, tekanan impor energi, hingga fenomena beralihnya tabungan masyarakat ke instrumen valas ini tentu menjadi alarm keras bagi otoritas fiskal dan moneter.
















