Langit hari-hari ini menuntut kita untuk kembali mengandalkan selembar masker. Di satu sisi, alam sedang menunjukkan gejolaknya lewat erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9), ada dua lapisan abu vulkanik yang kini berekspansi terbawa angin. Lapisan pertama melayang dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki, bergerak ke tenggara dan selatan memayungi sebagian Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Lapisan kedua menyapu lebih tinggi hingga 50.000 kaki ke arah barat daya dan barat laut, menutupi langit Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Berita letusan gunung berapi yang mengirimkan abu sejauh itu memang wajar jika seketika menjadi tajuk utama. Namun, sensasi abu Krakatau ini tidak boleh mengaburkan mata kita dari sebuah tragedi pernapasan yang jauh lebih pekat dan sistemik di seberang pulau.
Tengoklah grafik indeks kualitas udara dari pantauan BMKG pada Senin (7/9) pukul 07.00 WIB. Deretan angka yang tersaji bukan sekadar statistik di atas layar, melainkan alarm darurat bagi paru-paru manusia. Di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, konsentrasi Particulate Matter (PM2.5) melesat menembus angka 300 µg/m³—kategori hitam yang dengan gamblang dilabeli “Berbahaya”. Tepat di sebelahnya, Kabupaten Mempawah (yang sebelumnya bernama Kabupaten Pontianak), mencatatkan angka 237,5 µg/m³ atau bersatus “Sangat Tidak Sehat”. Mengikuti di belakangnya adalah wilayah-wilayah seperti Pekanbaru, Sintang, hingga Kota Jambi yang juga harus menelan udara berstatus “Tidak Sehat”.
Menyandingkan dua krisis udara ini bukan untuk mencari mana yang paling menderita, melainkan untuk meluruskan perspektif darurat kita. Abu vulkanik adalah debu material dari perut bumi—sebuah takdir alam yang akan mereda tersapu hujan. Sementara itu, PM2.5 yang mengepung pesisir Kalimantan adalah “pembunuh senyap” sisa pembakaran yang dipenuhi karbon dan racun. Partikel mikroskopis berukuran 2,5 mikrometer ini terlalu kecil untuk disaring oleh bulu hidung. Ia meluncur bebas ke kedalaman paru-paru dan menyusup ke aliran darah, mengancam nyawa dalam jangka panjang.
Fakta ini semakin menyesakkan ketika kita melacak sumber asapnya melalui mata satelit Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS). Sepanjang 1-18 Agustus 2026, instrumen satelit yang lebih presisi dari MODIS ini memetakan sebuah bencana ekologis masif. Kalimantan Barat mencatat rekor akumulasi tertinggi dengan 82.728 piksel anomali panas. Menyusul di belakangnya adalah Kalimantan Tengah (34.105 piksel), Kalimantan Timur (20.686 piksel), Kalimantan Selatan (16.602 piksel), dan Kalimantan Utara (5.157 piksel).
Dengan resolusi 375 meter per piksel, total deteksi citra satelit di sekujur Kalimantan ini merepresentasikan area seluas 2,24 juta hektare. Angka 2,24 juta hektare tersebut memang tidak serta-merta berarti seluruh lahan telah hangus menjadi arang (burn scar). Angka ini adalah akumulasi deteksi sensor atas segala jenis ukuran dan intensitas api—mulai dari titik api kecil yang terdeteksi sangat panas hingga kobaran kebakaran yang meluas. Namun, jutaan luasan deteksi termal itu secara nyata telah menjelma menjadi pabrik asap raksasa yang terus-menerus memproduksi udara beracun setiap harinya.
Alam punya caranya sendiri untuk mengingatkan kita lewat abu Anak Krakatau, yang pada akhirnya akan menghilang tertiup angin samudra. Tetapi asap karhutla yang mengepung udara Mempawah dan Kubu Raya adalah krisis ekologis yang menuntut penyelesaian, bukan sekadar diwajarkan sebagai musibah tahunan. Sembari kita merapatkan masker untuk menangkal abu vulkanik di langit barat, jangan biarkan abu itu membutakan simpati kita dari fakta bahwa di timur sana, hak bernapas jutaan manusia sedang direbus perlahan oleh asap yang tak berkesudahan.
















