Bayangkan sebuah malam di tatar Pasundan, suara gesekan kawat baja yang mengalun lirih membelah kesunyian. Tidak ada ingar-bingar alat musik modern, yang ada hanya resonansi mistis yang dipercaya mampu menembus dimensi lain. Inilah Tarawangsa, sebuah kesenian kuno yang tak sekadar urusan memetik dawai, tapi juga soal lobi-lobi spiritual dengan alam dan Sang Pencipta.
Namun, di tengah gempuran tren media sosial dan modernisasi, bagaimana sebuah ritual tua bisa bertahan hidup? Usut punya usut, jawabannya ada pada kompromi dan inovasi.
Bicara soal Tarawangsa, kita sedang membicarakan fondasi spiritual masyarakat agraris. Mengutip riset yang ditulis oleh Atang Suryaman, dkk (2023), secara etimologis istilah Tarawangsa memiliki makna filosofis yang sangat dalam, yakni narawang kanu kawasa atau menerawang kepada Sang Kuasa.
Pada masa lampau, kesenian ini konon lahir di kalangan menak dan lekat dengan sebutan Swara Tan Katingalan Lan Papan, yang berarti suara yang tidak terlihat. Di wilayah Rancakalong, Kabupaten Sumedang, kesenian ini adalah denyut nadi para petani.
Merujuk pada jurnal yang ditulis oleh Azizi Maulana, dkk (2023), Tarawangsa di Rancakalong merepresentasikan corak sosial ekonomi agraris dan dijaga ketat oleh 5 rurukan (organisasi adat petani). Di sana, tarian para perempuan yang membentuk formasi melingkar bukan sekadar koreografi estetis, melainkan representasi Axismundi—konsep poros bumi yang menjadi pusat kekuatan dan koneksi dengan dunia spiritual.
Meski namanya sama, wujud fisik Tarawangsa ternyata punya “spesifikasi” yang berbeda tergantung dari mana ia berasal. Tarawangsa di Rancakalong dimainkan dengan alat musik gesek berdawai dua (dari kawat baja/besi) yang dikawinkan dengan jentréng, yakni sejenis kecapi mungil berdawai tujuh. Beda ladang, beda belalang.
Di Banjaran (yang secara administratif kini masuk wilayah Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung), instrumen ini punya pasangannya sendiri. Tarawangsa Banjaran justru diiringi oleh kacapi dengan tujuh belas dawai, yang bentuknya sangat mirip dengan kacapi indung pada seni tembang Sunda Cianjuran. Bahkan, secara historis, Tarawangsa Banjaran pernah memiliki tiga dawai sebelum akhirnya versi dua dawailah yang lestari hingga hari ini.
Tarawangsa: Bukan Sekadar Konser, Tapi Jalur Terapi Sakit Medis
Jika Anda mengira Tarawangsa sekadar tontonan, Anda keliru. Kesenian ini adalah “p3k” spiritual masyarakat setempat. Di Banjaran, fungsinya membentang dari Hajat Lembur (syukuran panen tahunan) hingga Ngaruwat (menolak bala dan energi negatif). Fakta paling mencengangkan yang diungkap dalam sebuah penelitian adalah fungsi Tarawangsa sebagai medium penyembuhan orang sakit. Biasanya, ini terjadi pada mereka yang dahulu pernah menjadi pelaku seni Tarawangsa namun meninggalkannya. Pasien biasanya mendapat wangsit lewat mimpi untuk menggelar syukuran Tarawangsa demi kesembuhannya. Dalam ritual pengobatan ini, hadir seorang Laesan atau mediator yang menjembatani komunikasi antara manusia dan roh leluhur.
Kesakralan ini dijaga lewat aturan main yang ketat. Di Banjaran, dari total 42 lagu, terdapat 5 lagu paling sakral (Pangrajah, Takol dua, Pamapag, Ngemban-ngemban Dewi Sri, dan Panglima). Ketika kelima lagu ini dimainkan, penonton dilarang keras untuk ngibing (menari) apalagi bersorak, sebagai bentuk penghormatan absolut kepada Sang Pencipta dan leluhur.
Di sisi lain, prosesi di Rancakalong tak kalah magis. Runtutan acara yang bermula dari Ngukus (bakar kemenyan oleh kuncen), berlanjut ke sesi Nema di mana dua penari (saehu) laki-laki dan perempuan menari bergantian hingga trance (kesurupan), dan ditutup dengan Nginebkeun. Prosesi Nginebkeun ini memukau secara filosofis karena menggunakan sembilan wadah yang melambangkan 9 bulan proses kehidupan manusia di dalam kandungan sebelum lahir ke dunia. Mendobrak Tabu Tradisi Demi Bertahan HidupSebuah mahakarya budaya pada akhirnya harus berhadapan dengan monster bernama kepunahan. Di Banjaran, Tarawangsa nyaris tinggal nama dan sempat mengalami masa vakum yang menyedihkan pada tahun 2007 hingga 2008. Penyebabnya? Aturan konservatif.
Dalam sebuah catatan, pada masa lalu ada aturan ketat bahwa yang boleh menjadi pewaris atau pemain Tarawangsa Banjaran hanyalah mereka yang memiliki ikatan pertalian darah dengan seniman pendahulunya. Aturan ini mematikan regenerasi. Beruntung, sebuah kelompok bernama Padepokan Pusaka Lembur berani mendobrak tabu tersebut, menghapus syarat ikatan darah, sehingga anak muda mana pun kini bebas memeluk dan mempelajari warisan leluhurnya.
Di tempat lain, masyarakat Rancakalong memilih jalur digital. Preservasi budaya ini digenjot melalui pembuatan produksi video dokumenter. Lewat tahapan praproduksi yang matang hingga penayangan di platform media sosial seperti YouTube dan Instagram, Tarawangsa diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang ramah bagi generasi Gen-Z dan milenial.
Pada akhirnya, kisah Tarawangsa di Jawa Barat mengajarkan satu hukum alam yang absolut: tradisi tidak bertahan dengan cara mengurung diri di dalam kotak kaca museum. Ia hidup karena masyarakat pendukungnya mau beradaptasi—entah itu dengan meruntuhkan birokrasi darah keturunan seperti di Banjaran, atau dengan memeluk erat teknologi digital seperti di Rancakalong

















