• Tentang Kami
  • Layanan Iklan
  • Hubungi Kami
Senin, 12 Oktober 2026
Intiporia
Kirim Artikel
  • Berita
  • Feature
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Ilustrasi aksi massa - Foto oleh Markus Spiske di Unsplash

    Pada Akhirnya, Mantan Pentolan Aksi selalu dapat Kursi

    Pasar Sasagaran - Dok. Pribadi

    Pengembangan Pasar Sasagaran sebagai Destinasi Wisata Berbasis Budaya dan Kuliner Berkelanjutan

    Rahmat Bagja Ketua Bawaslu saat memberikan keterangan pada sidang pemeriksaan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum, Rabu (23/09) di Ruang Sidang MK. Foto Humas/Ifa.

    Bela Keabsahan Ijazah Gibran Pakai Permendikbud, KPU Dikritik Bawaslu Soal Pembatasan Akses Silon

    Tanissa Puti Rahmadiva Founder Bumi Kreasi Jatiluhur bersama Kepala Disporaparbud Kabupaten Purwakarta - Intiporia

    Bumi Kreasi Jatiluhur, Inovasi Pengolahan Eceng Gondok Tembus Program ‘Climate Skills Global Collaboration Grants’ di Inggris

    KDM Soroti Kenakalan Remaja Sebagai Ancaman Sistemik terhadap Ketahanan Bangsa - Humas Jabar

    Gubernur Jabar Tegaskan Program Pendidikan Gratis Murni Bersumber dari Pajak Warga

    Beranda Berita pemerintahan Sekda Herman Lepas Kontingen Setda Jabar ke HAORNAS 2026 - Humas Jabar

    Sekda Jabar Lepas Ratusan Atlet Setda ke HAORNAS 2026

    Puncak Perayaan World Cleanup Day 2026 Jawa Barat di Purwakarta

    World Cleanup Day 2026 di Purwakarta, Usung Tema ‘Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah’

    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

    Dedi Mulyadi Berikan Dua Pilihan Tegas untuk PT Jui Shin Terkait Kerusakan Jalan Badami-Loji Karawang

    Purbaya

    Gak Ada Mendingnya! Ngurus Karyawan Resign Dadakan vs Nonton Reshuffle ala Prabowo

  • Have Fun!
  • Esai
  • Tips & Trik
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
No Result
View All Result
Intiporia
  • Berita
  • Feature
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Ilustrasi aksi massa - Foto oleh Markus Spiske di Unsplash

    Pada Akhirnya, Mantan Pentolan Aksi selalu dapat Kursi

    Pasar Sasagaran - Dok. Pribadi

    Pengembangan Pasar Sasagaran sebagai Destinasi Wisata Berbasis Budaya dan Kuliner Berkelanjutan

    Rahmat Bagja Ketua Bawaslu saat memberikan keterangan pada sidang pemeriksaan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum, Rabu (23/09) di Ruang Sidang MK. Foto Humas/Ifa.

    Bela Keabsahan Ijazah Gibran Pakai Permendikbud, KPU Dikritik Bawaslu Soal Pembatasan Akses Silon

    Tanissa Puti Rahmadiva Founder Bumi Kreasi Jatiluhur bersama Kepala Disporaparbud Kabupaten Purwakarta - Intiporia

    Bumi Kreasi Jatiluhur, Inovasi Pengolahan Eceng Gondok Tembus Program ‘Climate Skills Global Collaboration Grants’ di Inggris

    KDM Soroti Kenakalan Remaja Sebagai Ancaman Sistemik terhadap Ketahanan Bangsa - Humas Jabar

    Gubernur Jabar Tegaskan Program Pendidikan Gratis Murni Bersumber dari Pajak Warga

    Beranda Berita pemerintahan Sekda Herman Lepas Kontingen Setda Jabar ke HAORNAS 2026 - Humas Jabar

    Sekda Jabar Lepas Ratusan Atlet Setda ke HAORNAS 2026

    Puncak Perayaan World Cleanup Day 2026 Jawa Barat di Purwakarta

    World Cleanup Day 2026 di Purwakarta, Usung Tema ‘Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah’

    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

    Dedi Mulyadi Berikan Dua Pilihan Tegas untuk PT Jui Shin Terkait Kerusakan Jalan Badami-Loji Karawang

    Purbaya

    Gak Ada Mendingnya! Ngurus Karyawan Resign Dadakan vs Nonton Reshuffle ala Prabowo

  • Have Fun!
  • Esai
  • Tips & Trik
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Intiporia
  • Berita
  • Feature
  • Have Fun!
  • Esai
  • Tips & Trik
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Home Esai

Pada Akhirnya, Mantan Pentolan Aksi selalu dapat Kursi

Raka Purnama by Raka Purnama
12 Oktober 2026
in Esai, Kampus
Ilustrasi aksi massa - Foto oleh Markus Spiske di Unsplash

Foto oleh Markus Spiske di Unsplash

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Linkedin

Tidak sedikit mahasiswa yang menggelar aksi di depan gedung wakil rakyat, tidak benar-benar memahami apa yang sedang mereka perjuangkan. Ironisnya, hal ini justru dimanfaatkan oleh para pemangku kebijakan. Daripada menghadapi substansi tuntutan, pejabat kerap kali lebih suka bernegosiasi secara pragmatis dengan para pentolan aksi.

Mereka merumuskan “solusi alternatif” di balik meja yang sebenarnya sama sekali mengabaikan esensi dari isu yang diprotes. Lucunya, para pentolan aksi ini pun dengan senang hati memanfaatkan situasi tersebut sebagai nilai tawar personal. Maka, bukan pemandangan asing lagi ketika kita melihat mantan-mantan pentolan aksi demonstrasi tiba-tiba mendapat “jatah kursi” di lingkaran kekuasaan.

BACA JUGA

Menyelisik Magisnya Tarawangsa: Dari Dawai Penolak Bala hingga Jurus Bertahan di Era TikTok

Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period

Belakangan ini, saya kembali mengingat bagaimana aksi-aksi yang pernah saya lakukan bersama massa mahasiswa sering kali tidak pernah benar-benar sampai pada tujuannya. Terutama saat melihat bagaimana berbagai kebijakan problematis berhasil memantik atensi mahasiswa untuk turun ke jalan; menggeruduk gedung DPR, melantangkan suara lewat Toa, bergerombol memadati jalanan, hingga membakar ban sebagai simbol perlawanan. Ada euforia kemarahan di sana, tetapi kosong akan pemahaman.

Pertanyaan saya kemudian, apakah massa mahasiswa ini benar-benar memahami konteks dan konten dari isu yang mereka angkat, atau mereka hanya sedang menjadi komoditas politik para pentolannya?

Mengapa Mahasiswa Perlu Melakukan Aksi Demonstrasi?

Sebelum mengingat kembali sejarah aksi mahasiswa dari masa ke masa. Kita perlu merefleksi kembali apa yang dijadikan penjelasan dari kata “Demonstrasi”

KBBI menjelaskan arti demonstrasi menjadi dua hal, yang pertama bahwa demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal. Kedua, peragaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu.

Gerakan mahasiswa yang secara massal menyambangi gedung wakil rakyat, sudah jelas bukan untuk memeragakan hasil karya ilmiah atau menunjukan tata cara belajar efektif di bidang akademis. Mereka hadir di sana, tidak lain adalah untuk menyampaikan sebuah pernyataan protes atau unjuk rasa atas isu yang sedang menjadi perhatian atau menjadi kontroversial. Benar begitu bukan?

Sejarah mencatat, bahwa aksi demonstrasi di Indonesia yang dilakukan mahasiswa dari masa ke masa, telah berhasil mencapai tujuan mengubah tatanan pemerintahan. Kita ingat pada tahun 1966, tepatnya pada tanggal 10 Januari, gerakan aksi yang diprakarsai oleh sejumlah aliansi mahasiswa telah berhasil mencatatkan hasil atas puncak aksi Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Aliansi tersebut di antaranya adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dan sejumlah organisasi mahasiswa lainnya.

Berawal dari respons mahasiswa pada peristiwa G30S (Gerakan 30 September 1965), aksi ini tercatat menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Lama dan mendorong lahirnya rezim Orde Baru. Tirto sebagai media, melaporkan catatan sejarah ini yang menjelaskan bagaimana latar belakang aksi Tritura ini terjadi. Latar belakang Tritura adalah adanya situasi politik dan ekonomi Indonesia pada era 1960-an yang silang selimpat. Pada masa itu, negara menghadapi tantangan serius akibat kebijakan politik Presiden Soekarno yang bertentangan dengan negara-negara barat.

Hal tersebut kemudian menyebabkan krisis inflasi dan ketidakstabilan ekonomi di Nusantara. Aksi Tritura pada periode 1960-an juga berkaitan erat dengan Gerakan 30 September 1965 yang berdampak besar terhadap keadaan politik di Indonesia.

Tujuannya, aksi Tritura ini berfokus pada tiga tuntunan krusial yang berhasil mengguncang tatanan pemerintahan pada saat itu. Tuntutan tersebut mencakup, pembubaran PKI beserta organisasi turunannya, perombakan Kabinet Dwikora – kabinet pemerintahan di Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin (1964-1966) – dan penurunan harga pangan.

Tritura memang epik. Tapi, mari kita sudahi romantisme sejarah yang bikin merinding itu. Kenyataannya, kalau kita bandingkan aksi zaman old dengan kelakuan pentolan aksi zaman now, rasanya kok kayak membandingkan band indie idealis dengan boyband bentukan label ibukota. Kalau dulu jalanan murni jadi medan juang buat menumbangkan kebijakan yang mencekik, lha sekarang jalanan malah jadi panggung audisi jalur politik.

Portofolio Jalanan Menuju Senayan

Ada sebuah fenomena kocak—atau tragis, terserah Anda mau sebut apa—yang pelan tapi pasti sudah mengakar jadi budaya di ekosistem kampus kita. Mereka-mereka yang paling vokal, yang kalau orasi urat lehernya sampai mau putus, dan yang paling hobi pasang badan di depan barikade aparat, ndilalah kok ya sering banget jadi orang pertama yang dapat karpet merah menuju kursi partai politik atau jabatan di pemda.

Bukan rahasia lagi lah, kalau demonstrasi kadang fungsinya sudah beralih jadi semacam LinkedIn versi hardcore. Buat update portofolio, Bos! Menjadi pentolan aksi atau korlap adalah jalan ninja membangun personal branding sebagai sosok pemuda kritis, berani, dan—yang paling penting—punya massa. Begitu spotlight didapat, eh lha dalah, tawaran dari “dalam” mulai berdatangan. Entah ditarik jadi stafsus, kader muda partai, atau mentok-mentok komisaris BUMN.

Mitos “Berbenah Harus dari Dalam”

Terus, kalau mereka akhirnya ketahuan asyik pakai jas partai dan meninggalkan almamater lusuhnya, apa pembelaan mereka? Oh, tentu saja ada satu template jawaban sakti mandraguna yang bakal diulang-ulang: “Bro, kita nggak bisa selamanya teriak-teriak dari luar. Kalau mau ngubah sistem, kita harus berbenah dari dalam!”

Pret.

Kedengarannya sih heroik banget, ya? Mirip film agen rahasia yang menyusup ke markas kartel. Tapi mari kita pakai logika warung kopi. Emangnya niat “berbenah dari dalam” itu nyata dan bisa kejadian? Praktiknya, dari seratus orang yang masuk buat “mengubah sistem”, sembilan puluh sembilannya malah sukses diubah oleh sistem. Idealisme yang dulu menyala-nyala saat bakar ban di jalan, pelan-pelan mbrebet dan mati disiram guyuran kompromi politik, negosiasi proyek, dan kursi empuk ber-AC.

Sistem birokrasi dan oligarki kita itu terlalu raksasa. Masuk ke sana sendirian tanpa modal politik mandiri cuma bakal bikin mantan aktivis ini jadi kosmetik belaka. Sekadar pajangan etalase buat penguasa pamer, “Tuh liat, pemerintah mengakomodasi suara anak muda kritis kok!” Padahal aslinya, suara lantang itu sudah sukses didempul pakai rapat-rapat tertutup dan fasilitas negara.

Idealisme Ada Masa Kedaluwarsanya?

Realitas ini jelas menyuapkan pil super pahit buat adik-adik mahasiswa yang masih lugu. Kepercayaan publik pada kemurnian aksi perlahan luntur. Sementara massa mahasiswa di akar rumput cuma jadi pion, teriak-teriak sampai radang tenggorokan, tanpa sadar kalau kemarahan mereka lagi dikapitalisasi sama abang-abangan korlap buat DP nyicil jabatan.

Pada akhirnya, kita dipaksa menelan kesimpulan sinis yang susah dibantah: idealisme aktivis itu ternyata ada expired date-nya. Dan batas kedaluwarsa itu biasanya jatuh tepat pada saat tawaran kursi kekuasaan disodorkan ke depan muka.

Nah, kalau menurutmu gimana? Sepakat nggak kalau pada ujungnya, mantan pentolan aksi ini memang cuma lagi nunggu antrean buat duduk di kursi empuk? Atau… jangan-jangan kamu masih percaya ada aktivis murni yang kebal godaan jabatan? (Halah, ngaku aja deh, dalam hati kamu juga ragu, kan?).

Tags: AksiMahasiswa
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.

Related Posts

Gelaran Kesenian Tarawangsa di Sumedang - Dok. Intiporia
Esai

Menyelisik Magisnya Tarawangsa: Dari Dawai Penolak Bala hingga Jurus Bertahan di Era TikTok

4 September 2026
Langit Biru- Foto oleh Jelleke Vanooteghem di Unsplash
Esai

Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period

4 September 2026
Mahasiswa KKN ajukan Program Air Bersih - Dok. Intiporia
Kampus

Fasilitasi Pengajuan Program Air Bersih dan Toren di Desa Sukahaji, Ini Cara Mahasiswa KKN Universitas Kartamulia Purwakarta

25 Agustus 2026
ilustrasi partai politik dan kemerdekaan
Esai

Tradisi Politik Kita Sejak 1945: Merdeka, Bikin Partai, Lalu Pecah Kongsi?

15 Agustus 2026
Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas
Kampus

Warnai Dunia Pendidikan: Mahasiswa KKN Desa Sukahaji, Universitas Kartamulia Dorong Kolaborasi Lintas Komunitas

14 Agustus 2026
Politeknik Jatiluhur
Kampus

Politeknik Jatiluhur Sosialisasikan Literasi Digital bagi Keluarga PKH

7 Agustus 2026
  • Pertarungan di Naruto Shippuden

    15 Episode Naruto Paling Sedih yang Membekas di Generasi 2000-an

    2493 shares
    Share 997 Tweet 623
  • Kakashi Hatake: Hokage dengan Luka Masa Lalu dan Visi Masa Depan

    778 shares
    Share 311 Tweet 195
  • Libur, Sendirian di Kost: Aku Dikagetin Bukan Sama Debt Collector Tapi… Setan!

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Pengembangan Pasar Sasagaran sebagai Destinasi Wisata Berbasis Budaya dan Kuliner Berkelanjutan

    652 shares
    Share 261 Tweet 163
  • FIFA Resmi Umumkan, Ini Daftar 11 Negara Peserta ASEAN CUP 2025

    773 shares
    Share 309 Tweet 193
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Creative Intiporia
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Creative Intiporia
  • Hubungi Kami

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan