Purwakarta – Puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat Kabupaten Purwakarta pada Minggu, 12 Juli 2026 tak hanya menjadi ajang selebrasi dan pameran produk UMKM, tetapi juga menjadi panggung penghormatan bagi para pahlawan ekonomi kerakyatan. Salah satu momen paling inspiratif dalam acara tersebut adalah penyerahan penghargaan “Tokoh Koperasi” kepada Sirti Asyah Zenobia.
Bagi Sirti, penghargaan yang diserahkan langsung oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta ini bukanlah sekadar plakat. Ini adalah wujud pengakuan atas rekam jejak pengabdiannya yang luar biasa panjang dan konsisten dalam menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di Purwakarta.
Saat ditemui usai menerima penghargaan di tengah kemeriahan acara, Sirti membagikan sedikit kisah perjalanan hidupnya yang tak bisa dilepaskan dari dunia perkoperasian. Dedikasinya bukan dalam hitungan tahun, melainkan sudah melewati setengah abad.
“Saya sudah 51 tahun di koperasi dan belum pernah turun dari pengurus,” ungkap Sirti, menggambarkan betapa panjang asam garam yang telah ia lalui dalam merawat koperasinya.
Bertahan lebih dari lima dekade dalam jajaran kepengurusan bukanlah tanpa alasan. Kepercayaan anggota yang begitu besar kerap kali menempatkannya kembali di kursi pimpinan, meskipun ia sendiri merasa sudah saatnya ada regenerasi kepemimpinan.
“Sebenarnya ya, mestinya orang muda yang maju, tapi kebetulan saya selalu terpilih lagi (menjadi pengurus),” tuturnya kepada Tim Intiporia saat diwawancara.
Meski masih dipercaya memegang kendali, Sirti menyadari bahwa masa depan ekonomi kerakyatan ada di tangan generasi penerus.
Di tengah gempuran tren bisnis digital saat ini, ia memiliki satu keinginan besar yang terus disuarakan: agar semangat gotong royong dan kemandirian khas koperasi tidak luntur ditelan zaman.
“Saya ingin sekali jiwa koperasi itu tetap hidup dalam jiwa anak-anak muda,” tegasnya penuh harap.
Kini, setelah 51 tahun mengawal jatuh bangunnya koperasi dan menyabet penghargaan tertinggi sebagai Tokoh Koperasi Purwakarta tahun ini, Sirti merasa tugasnya sudah tuntas. Baginya, ini adalah garis finis yang manis sekaligus momentum yang tepat untuk benar-benar menyerahkan tongkat estafet kepada para pemuda.
“Tahun ini sih, saya pengen pensiun saja,” tutup Sirti, mengakhiri perbincangan dengan senyum yang menyiratkan kelegaan dan harapan baru bagi perkoperasian Purwakarta.

















