• Tentang Kami
  • Layanan Iklan
  • Hubungi Kami
Kamis, 26 Maret 2026
Intiporia
Kirim Artikel
  • Sekilas
  • Tren
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Curug 7

    Wisata Alam Curug 7 Gunung Kujang Subang Resmi Dibuka, Siap Dongkrak Ekonomi Warga

    TNI Tahan 4 Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus

    Puspom TNI Amankan 4 Personel Atas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

    Run Race Purwakarta - Intiporia/ M. Fajri

    Demam “Run Race” Sampai ke Purwakarta: Adu Cepat Anak Muda di Lintasan Aspal

    Abu Janda Debat Ikrar Nusa Bhakti & Feri Amsari Soal Jasa AS untuk Indonesia - Tangkapan Layar: Youtube/Official iNews

    Debat Panas Abu Janda vs Ikrar Nusa Bhakti dan Feri Amsari: Dari Jasa Amerika untuk RI hingga Isu Gaza

    Bersama Tim SAR Gabungan Melakukan Kaji Cepat Kejadian Longsor di TPST Bantar Gebang - Foto: BPBD Prov DKI Jakarta

    Fakta Tragedi Gunungan Sampah Longsor di Bantargebang

    Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat

    Buntut Tragis Longsor Bantargebang: KLH Turun Tangan, Ancam Sanksi Pidana bagi Pengelola

    Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia

    Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

    8 Platform Digital yang Dibatasi untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

    8 Platform Digital yang Dibatasi untuk Anak di Bawah Usia 16 Tahun Mulai 28 Maret

    Komdigi Resmi Batasi Akses Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

    Komdigi Resmi Batasi Akses Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
No Result
View All Result
Intiporia
  • Sekilas
  • Tren
    • All
    • Budaya
    • Dunia
    • Film
    • Kampus
    • Lingkungan
    • Lokal
    • Musik
    • Muslim
    • Olahraga
    • Opini
    • Peristiwa
    • Politik
    • Selebritas
    • Teknologi
    • Wisata
    Curug 7

    Wisata Alam Curug 7 Gunung Kujang Subang Resmi Dibuka, Siap Dongkrak Ekonomi Warga

    TNI Tahan 4 Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus

    Puspom TNI Amankan 4 Personel Atas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

    Run Race Purwakarta - Intiporia/ M. Fajri

    Demam “Run Race” Sampai ke Purwakarta: Adu Cepat Anak Muda di Lintasan Aspal

    Abu Janda Debat Ikrar Nusa Bhakti & Feri Amsari Soal Jasa AS untuk Indonesia - Tangkapan Layar: Youtube/Official iNews

    Debat Panas Abu Janda vs Ikrar Nusa Bhakti dan Feri Amsari: Dari Jasa Amerika untuk RI hingga Isu Gaza

    Bersama Tim SAR Gabungan Melakukan Kaji Cepat Kejadian Longsor di TPST Bantar Gebang - Foto: BPBD Prov DKI Jakarta

    Fakta Tragedi Gunungan Sampah Longsor di Bantargebang

    Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat

    Buntut Tragis Longsor Bantargebang: KLH Turun Tangan, Ancam Sanksi Pidana bagi Pengelola

    Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia

    Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

    8 Platform Digital yang Dibatasi untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

    8 Platform Digital yang Dibatasi untuk Anak di Bawah Usia 16 Tahun Mulai 28 Maret

    Komdigi Resmi Batasi Akses Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

    Komdigi Resmi Batasi Akses Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret

  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Intiporia
  • Sekilas
  • Tren
  • Have Fun!
  • Esai
  • Belajar
  • Gaya Hidup
  • Komunitas
Home Tren Budaya

Cerita di Balik Da-mi-na-ti-la-da: Inovasi Raden Machjar yang Bikin Musik Sunda Mendunia

Raka Purnama by Raka Purnama
19 Oktober 2025
in Budaya
Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata Putra Ke-5 Raden Machjar Angga Koesoemadinata

Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata, Putra Ke-5 Raden Machjar Angga Koesoemadinata - Tangkapan Layar (YouTube/KORSUM tv)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Linkedin

Di balik lembutnya lantunan gamelan Sunda, tersimpan kisah seorang jenius yang tak hanya mencintai musik, tetapi juga meneliti hingga ke inti bunyinya. Dialah Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seniman sekaligus musikolog besar yang lahir di Sumedang pada 7 Desember 1902 dan wafat di Bandung, 9 April 1979.

Nama Machjar bukan hanya dikenal di Indonesia. Pada tahun 1950, namanya tercatat dalam Dictionary Music & Musician—sebuah pengakuan dunia atas kiprahnya di bidang musikologi.

BACA JUGA

Tradisi Rutin Mipit Nyi Pohaci, Desa Dangdeur Purwakarta Wujudkan Pelestarian Budaya Simbol Syukur Hasil Bumi

Tahukah Kamu? Mengapa Banyak Nama Daerah di Purwakarta Berawalan ‘Kebon’ dan ‘Sawah’

Ia dikenal sebagai pencipta sistem notasi nada Sunda “da-mi-na-ti-la-da” dan penemu sistem 17 tangga nada yang memungkinkan laras salendro dan pelog dimainkan dalam satu harmoni.

Dalam usia yang masih sangat muda, 21 tahun, Machjar telah memperkenalkan notasi yang kelak menjadi dasar pembelajaran musik Sunda modern. Ia menyebut karyanya itu sebagai serat kanayagan, dan dituangkan dalam buku Elmuning Kawih Sunda. Melalui temuannya ini, ia dianggap sebagai musikolog pertama di tanah Jawa.

“Pak Machjar-lah yang memperkenalkan notasi da-mi-na-ti-la-da ke para guru di Jawa Barat,” ujar Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, saat membuka Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-71 bertajuk Mieling R. Machjar Angga Koesoemadinata di Bale Rumawat Unpad, Bandung, Kamis, 9 September 2014 lalu.

Lingkungan akademik dan seni yang membentuk masa kecilnya menjadi fondasi kuat bagi pemikirannya. Ketertarikannya terhadap musik Barat muncul ketika ia menempuh pendidikan di sekolah keguruan, bersamaan dengan pelajaran fisika. Dari sinilah lahir minat penelitiannya terhadap interval dan frekuensi suara dalam perangkat gamelan—perpaduan antara seni dan sains yang kala itu jarang dilakukan oleh musisi Nusantara.

Antara tahun 1916 hingga 1929, Machjar tidak hanya menciptakan teori, tetapi juga melahirkan karya nyata. Ia merumuskan laras salendro dengan 10 nada dan pelog dengan 9 nada, serta mengembangkan sistem 17 nada dalam satu oktaf. Teori ini kemudian ia aplikasikan dalam instrumen ciptaannya, seperti gitar “Erman” dan gamelan monumental “Ki Pembayun.”

Tak berhenti di situ, Machjar juga menciptakan alat Monochord, sebuah perangkat pengukur getaran suara yang kemudian digunakan oleh para ahli musik internasional.

Pertemuannya dengan musikolog Belanda, Jaap Kunst, pada tahun 1927 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Melalui pertemuan itu, sistem 17 tangga nada ciptaan Machjar dibawa ke Barat dan diadaptasi dalam sistem notasi musik Eropa. Inilah yang menjadikan karyanya sebagai sumbangan besar bagi perkembangan musik Sunda dan dunia.

Diskusi tentang karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata dengan pembicara Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata dengan moderator Prof. Ganjar Kurnia di Bale Rumawat Unpad Bandung, Jumat (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)
Diskusi tentang karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata dengan pembicara Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata dengan moderator Prof. Ganjar Kurnia di Bale Rumawat Unpad Bandung, Jumat (9/10). (Foto oleh: Tedi Yusup)

Dalam acara Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-71 di Bale Rumawat Unpad, yang dikutip dari laman Unpad bertajuk Mengenang R. Machjar Angga Koesoemadinata, Musikolog Pencipta Notasi Nada Sunda sosok Machjar kembali dihidupkan melalui pertunjukan karya-karyanya dan diskusi ilmiah yang menghadirkan Priadi Dwi Prajito, Atang Ruswita, dan Prof. Dr. R. Prajatna Koesoemadinata, dengan Prof. Ganjar Kurnia sebagai moderator.

Melalui kisah hidup dan karya-karyanya, Raden Machjar Angga Koesoemadinata bukan hanya meninggalkan jejak pada musik Sunda, tetapi juga warisan intelektual yang membuktikan bahwa bunyi, bila diteliti dengan cinta dan logika, bisa menjangkau batas budaya dan zaman.

Tags: MusiknadanotasiNusantaraRaden Machjarsunda
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.

Related Posts

Mipit Nyi Pohaci
Budaya

Tradisi Rutin Mipit Nyi Pohaci, Desa Dangdeur Purwakarta Wujudkan Pelestarian Budaya Simbol Syukur Hasil Bumi

13 Februari 2026
Gapura Purwakarta
Budaya

Tahukah Kamu? Mengapa Banyak Nama Daerah di Purwakarta Berawalan ‘Kebon’ dan ‘Sawah’

28 Januari 2026
Angklung
Budaya

Mengenal 5 Jenis Angklung: Alat Musik Masyarakat Sunda yang Mendunia

7 Januari 2026
Kampung KDM
Lokal

7 Daya Tarik Kampung KDM di Pasir Cabe Purwakarta, Hunian Nyunda yang Estetik!

7 Januari 2026
Pasar Seni ITB
Budaya

Kebangkitan Kembali Tradisi: Pasar Seni ITB 2025 Sedot Lebih dari 200.000 Pengunjung

20 Oktober 2025
Bidage Alun Kiansantang Purwakarta
Budaya

Bagian ke-2: Brigade III Kiansantang, Dari Medan Perang ke Nama Sebuah Alun-Alun di Purwakarta

19 Oktober 2025
Next Post
Stunting

Strategi Efektif Mengurangi Stunting di Indonesia: Langkah Pemerintah dan Komunitas yang Terbukti

  • Kampung KDM

    7 Daya Tarik Kampung KDM di Pasir Cabe Purwakarta, Hunian Nyunda yang Estetik!

    683 shares
    Share 273 Tweet 171
  • Menkeu Purbaya Soroti Hutang Whoosh: “kalau pakai APBN dulu agak lucu”

    654 shares
    Share 262 Tweet 164
  • Reshuffle Kabinet Merah Putih: Ini 54 Daftar Kabinet Prabowo

    655 shares
    Share 262 Tweet 164
  • Presiden Prabowo Subianto Tekankan Pentingnya Independensi Ilmiah di KSTI 2025

    654 shares
    Share 262 Tweet 164
  • FIFA Resmi Umumkan, Ini Daftar 11 Negara Peserta ASEAN CUP 2025

    735 shares
    Share 294 Tweet 184
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Creative Intiporia
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kirim Artikel
  • Creative Intiporia
  • Hubungi Kami

© 2025 All Right Reserved Intiporia - Intip Dunia yang Menyenangkan