Subang, Jawa Barat – kabupaten yang dikenal dengan penghasilan nanasnya yang melimpah bahkan kabupaten subang ini di juluki dengan “Kota Nanas”. Dibalik keberlimpahannya, masih terdapat sisa limbah berupa daun nanas dalam jumlah yang cukup besar setelah musim panen sebagian limbah ini di biarkan membusuk atau di bakar.
Kondisi ini tidak hanya menyebabkan penumpukan limbah, tetapi juga menyebabkan potensi sumber daya lokal yang yang bernilai tinggi terbuang sia-sia. Sehingga belum dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama di Kampung Cijoged, Kabupaten Subang, Jawa barat.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Tim Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang di mulai dari bulan Juli sampai Desember 2026. Program ini berfokus pada Pemanfaatan limbah daun nanas dengan menjadikan produk kerajinan tangan yang bernilai tinggi. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai potensi limbah serat daun nanas sebagai bahan baku produk bernilai tambah.
Kegiatan yang berlangsung pada bulan juli 2026, difokuskan pada penyampaian materi dan pengenalan kepada masyarakat agar mereka memahami potensi bisnis yang dapat dikembangkan dari pemanfaatan limbah daun nanas. Langkah ini berfungsi sebagai dasar yang kuat sebelum masyarakat mengikuti pelatihan praktik pengolahan serat daun nanas menjadi produk kerajinan yang bernilai tinggi, Yang akan dilaksanakan pada bulan agustus 2026. tim PkM menjelaskan bahwa untuk memperoleh serat daun nanas ini, daun nanas dimasukan kedalam mesin dekortikasi untuk memisahkan serat dari kulit dan jaringan daun. Hasil proses ini berupa serat alami yang masih kasar dan masih mengandung sisa getah serta jaringan tanaman.
Selanjutnya, serat dijemur untuk mengurangi kadar air agar kualitasnya tetap terjaga. Setelah kering, serat diproses menggunakan mesin pelembut serat sehingga menjadi lebih halus, bersih, dan berkualitas. Serat yang telah melalui tahapan ini kemudian siap diolah lebih lanjut menjadi serat selulosa. Selain menjelaskan pemanfatan serat daun nanas, tim juga memberikan wawasan mengenai pentingnya pengemasan produk. Produk yang telah dibuat akan tampak lebih menarik jika dikemas dengan baik dan diberi label atau merek.
Kemasan yang baik tidak hanya melindungi produk tersebut, tetapi juga meningkatkan kesan kualitas sehingga lebih mudah menarik perhatian pembeli. Harapannya pengabdian ini dapat memberikan dampak nyata untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Cikadu terutama di Kampung Cijoged dan dapat berlanjut pada kegiatan selanjutnya pada bulan Agustus 2026.
Kegiatan pegabdian kepada masyarakat ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan melalui usaha kreatif berbasis serat daun nanas. Tim PkM-PISN Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana memberikan penghargaan dan ungkapan terima kasih kepada Kepala Dusun Kampung Cijoged Bapak Herman serta seluruh warga yang telah mendukung, menerima dengan baik, dan terlibat secara aktif selama kegiatan berlangsung.
Ketua tim PkM, Dr. Irwan Suriaman ,M.T. menyatakan “sangat berterimakasih” kepada mitra ALFIBER yang dipimpin oleh Bapak Alan Sahroni, A. Md., atas kolaborasi dan dukungannya selama kegiatan tersebut. Tim penelitian mengungkapkan rasa terima kasih kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah menyediakan dana untuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) terkait Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026, dengan nomor kontrak 268/C3/DT.05.00/PISN/2026 atau 1556/LL4/PG/2026 atau 324/KL/STT-WKN/PWK/V/2026.
Kontributor: Irwan Suriaman, Rohman, Wanwan Jamaludin, Apang Djafar Shieddieque, Muhammad Lukman Abdullah, Muhammad Azka, Hadad Marwan, Erik Mulyana.
















