Angklung bukan sekadar deretan bambu yang menghasilkan nada. Bagi masyarakat Sunda di Jawa Barat, angklung adalah simbol harmoni yang menghubungkan manusia, alam, dan spiritualitas.
Kini, getaran merdunya tidak hanya terdengar di pelosok desa, tetapi telah menggema hingga ke panggung-panggung internasional.
Sejarah dan Filosofi Musik Angklung
Asal-usul angklung berakar kuat pada tradisi agraris masyarakat Sunda. Dahulu, alat musik ini digunakan dalam ritual adat untuk memohon kesuburan tanaman kepada Dewi Sri, sang dewi kesuburan dalam kepercayaan lokal.
Para petani percaya bahwa suara angklung yang bergetar dapat memikat semangat alam agar memberikan hasil panen yang melimpah.
Seiring berjalannya waktu, angklung bertransformasi dari instrumen ritual yang sakral menjadi alat musik hiburan rakyat yang fleksibel.
Perjalanannya dari ladang-ladang di tanah Sunda ke panggung dunia menunjukkan betapa kuatnya daya hidup warisan budaya ini.

5 Jenis Angklung yang Menarik Diketahui
Meskipun terlihat serupa, setiap daerah memiliki variasi angklung dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda, dilansir dari situs resmi Indonesia Travel, berikut adalah 5 jenis angklung:
1. Angklung Kanekes (Baduy)
Berasal dari komunitas Suku Baduy di Banten. Alat musik ini sangat sederhana dan bersifat sakral. Bukan untuk hiburan, Angklung Kanekes dimainkan sebagai bagian dari ritual pertanian dan penghormatan terhadap alam dengan nada yang cenderung monoton namun magis.
2. Angklung Dogdog Lojor
Populer di daerah Lebak dan Pandeglang, Banten. Dinamai sesuai dengan alat musik pengiringnya, yaitu dogdog (gendang panjang). Angklung ini menciptakan suasana khusyuk dalam upacara Seren Taun atau syukuran panen.
3. Angklung Gubrag
Salah satu jenis tertua yang berasal dari Bogor dan dikenal sejak abad ke-18. Memiliki ukuran besar dengan suara yang berat dan menggelegar. Fungsi utamanya adalah sebagai ritual permohonan kesuburan tanah agar hasil bumi melimpah.
4. Angklung Buncis
Mewakili sisi ceria masyarakat Bandung Barat dan Cimahi. Berbeda dengan jenis ritual, Angklung Buncis memiliki irama cepat dan dinamis. Jenis ini murni digunakan sebagai hiburan rakyat dalam pesta desa atau pertunjukan seni.
5. Angklung Reog
Menariknya, angklung juga menjadi bagian penting dalam pertunjukan Reog Ponorogo di Jawa Timur. Suaranya dibuat lebih keras dan ritmis untuk menyesuaikan dengan energi pertunjukan yang atraktif, membuktikan bahwa angklung dapat menyatu dengan berbagai seni tradisi lainnya.
Eksistensi di Panggung Internasional
Tahun 2010 menjadi tonggak sejarah ketika UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Sejak saat itu, prestise angklung semakin meningkat:
Di negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Belanda, angklung telah diperkenalkan dalam kurikulum edukasi multikultural.
Di pendidikan dalam negeri, angklung bahkan menjadi salah satu materi wajib dalam kurikulum seni budaya di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Banyak komunitas internasional yang kini mempelajari dan mementaskan angklung di panggung global sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Melalui suara bambu yang khas, angklung tidak hanya menjadi warisan musik, tetapi juga jendela untuk memahami nilai-nilai sosial dan spiritual bangsa. Mengenal angklung adalah pengalaman otentik yang menghubungkan musik, sejarah, dan kearifan lokal dalam satu alunan harmoni yang mendunia.

















