Dinar emas dan dirham perak adalah dua jenis mata uang historis dalam Islam yang kini kembali mendapat perhatian. Meskipun dunia modern didominasi oleh mata uang kertas atau fiat money (uang atas perintah), keunggulan fundamental dinar dan dirham—yang terletak pada sifat fisik dan nilai intrinsiknya—menawarkan stabilitas dan keadilan ekonomi yang sulit ditandingi oleh mata uang lainnya.
- Nilai Intrinsik dan Perlindungan dari Inflasi
Keunggulan utama dinar dan dirham adalah nilai intrinsiknya (intrinsic value).
- Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) adalah komoditas berharga yang memiliki nilai nyata, terlepas dari pengakuan pemerintah. Setiap koin mengandung sejumlah berat emas atau perak murni yang diakui secara global.
- Sebaliknya, mata uang fiat (seperti Rupiah, Dolar, atau Euro) hanyalah selembar kertas atau data digital. Nilainya sepenuhnya didasarkan pada kepercayaan masyarakat dan jaminan yang diberikan oleh pemerintah atau bank sentral.
Kebergantungan pada nilai intrinsik menjadikan dinar dan dirham sebagai penyimpan nilai (store of value) yang sangat andal. Sejak dahulu kala, jumlah emas yang dibutuhkan untuk membeli kebutuhan pokok (seperti seekor kambing atau sekarung gandum) cenderung tetap. Hal ini memberikan perlindungan alami terhadap inflasi. Sementara mata uang fiat dapat kehilangan daya belinya karena pencetakan uang yang berlebihan (Quantitative Easing), daya beli dinar dan dirham relatif stabil.
- Ketiadaan Risiko Kontrapihak dan Utang
Mata uang fiat modern hampir selalu diterbitkan melalui sistem perbankan sentral yang melibatkan utang. Ketika bank sentral mencetak lebih banyak uang, hal itu sering kali menambah utang nasional dan mendilusi nilai uang yang sudah beredar.
Dinar dan dirham, karena sifatnya yang berbasis komoditas, tidak memiliki risiko kontrapihak (counterparty risk).
- Memegang koin dinar berarti Anda memegang kekayaan secara fisik, bukan sekadar janji untuk membayar utang di masa depan.
- Nilainya tidak terikat pada kesehatan finansial atau keputusan politik suatu negara. Ini memberikan otonomi moneter yang lebih besar kepada individu.
- Standar Moneter yang Universal dan Transparan
Sistem dinar dan dirham menawarkan standar moneter yang seragam dan transparan.
- Meskipun desain koin dapat bervariasi antar dinasti atau negara, standar berat dan kemurniannya (4.25 gram emas untuk dinar dan 2.975 gram perak untuk dirham) telah dijaga secara konsisten sesuai prinsip syariat.
- Standar ini memungkinkan perdagangan internasional yang lebih adil dan mudah karena nilainya dipahami dan diterima lintas batas tanpa perlu mengandalkan kurs yang berfluktuasi secara ekstrem akibat spekulasi mata uang.
- Dalam konteks Islam, standar ini juga memudahkan penentuan kewajiban agama seperti nisab zakat dan diyat, karena ukurannya sudah baku dan diakui.
- Pencegahan Spekulasi dan Gelembung Ekonomi
Sistem dinar dan dirham cenderung menekan spekulasi yang merusak. Karena koin tersebut memiliki nilai fisik, ada batas alamiah terhadap seberapa banyak mata uang yang dapat “diciptakan.”
- Dalam sistem fiat, dimungkinkan untuk menciptakan uang dari udara tipis (melalui mekanisme fractional reserve banking) yang dapat memicu gelembung aset dan krisis keuangan ketika kepercayaan publik runtuh.
- Dengan mata uang logam mulia, setiap transaksi harus diimbangi dengan komoditas nyata, yang secara inheren mendorong perilaku ekonomi yang lebih konservatif, stabil, dan berbasis nilai riil, bukan utang atau spekulasi.
- Keberlanjutan dalam Sejarah
Sebagai mata uang, dinar dan dirham telah membuktikan daya tahan historis (historical resilience) yang tak tertandingi.
- Keduanya telah digunakan sebagai alat tukar utama selama lebih dari seribu tahun di berbagai kekhalifahan dan kerajaan, melewati perang, perubahan politik, dan bencana alam.
- Sebaliknya, umur rata-rata mata uang fiat relatif pendek. Banyak mata uang kertas telah hilang sepenuhnya dalam satu abad karena hiperinflasi atau kehancuran pemerintahan. Keberadaan dinar dan dirham yang berkesinambungan mencerminkan keunggulan fundamental mereka sebagai basis kekayaan yang abadi.
Kesimpulan
Meskipun dinar dan dirham mungkin belum sepenuhnya menggantikan mata uang fiat dalam sistem global saat ini, keunggulannya tidak dapat diabaikan. Sebagai mata uang yang terikat pada nilai intrinsik, bebas dari risiko kontrapihak, dan didukung oleh standar yang stabil, mereka menawarkan solusi untuk banyak masalah yang menghantui sistem moneter modern, terutama inflasi dan kerentanan ekonomi akibat utang. Bagi mereka yang mencari stabilitas jangka panjang dan kesesuaian dengan prinsip-prinsip syariat dalam urusan moneter, dinar dan dirham tetap menjadi pilihan yang unggul dan relevan

















