Katanya, lidah itu tak bertulang. Tapi justru karena tak bertulang, dia bisa berbelit, bisa nyelip, bahkan bisa nyundul balik ke empunya. Ahmad Sahroni baru saja membuktikan pepatah lama yang sederhana tapi mematikan: mulutmu harimaumu. Bedanya, harimau yang satu ini bukan cuma mencakar, tapi juga bikin rumah dijarah dan karier politik ambruk dalam semalam.
Ceritanya bermula ketika Sahroni nyeletuk soal wacana pembubaran DPR. Alih-alih menanggapi dengan kalem, ia justru menabuh genderang dengan kalimat yang terlalu “blak-blakan”: “ide orang tolol sedunia.” Sekejap, kalimat ini beterbangan ke seluruh jagat maya, jadi bahan gorengan, dan ujung-ujungnya bikin rakyat naik pitam.
Dan begitulah, publik kita memang gampang panas, apalagi kalau sudah merasa dihina. Rumah mewah Sahroni di Tanjung Priok jadi sasaran. Mobil-mobil keren, koleksi mainan mahal, sampai patung Iron Man yang tak berdosa pun ikut kena hajar. Iron Man kalah sama mulut manusia—tragis tapi nyata.
NasDem pun tak mau ikut ketularan malu. Dengan sigap, partai menonaktifkan Sahroni. Praktis, ia kini bukan lagi “wakil rakyat” melainkan “wakil dirinya sendiri.” Inilah harga mahal dari satu kalimat sembrono: reputasi hancur, jabatan hilang, citra rusak.
Tentu, ada yang bilang publik terlalu berlebihan. Masa gara-gara satu kalimat sampai rumah dijarah? Tapi begitulah dinamika demokrasi kita—ketika wakil rakyat yang harusnya menjaga perasaan rakyat malah menghardik, balasannya bisa brutal. Memang salah kalau massa bertindak anarkis, tapi bukankah semua ini berawal dari satu lidah yang gagal dikendalikan?
Kasus ini pada akhirnya bukan cuma soal Sahroni. Ini soal standar kita terhadap pejabat publik. Politisi boleh saja kaya raya, tampil glamor, koleksi supercar, bahkan foto bareng Iron Man. Tapi kalau mulutnya tak terjaga, semua itu bisa lenyap dalam satu malam. Publik bisa menoleransi banyak hal, kecuali merasa direndahkan.
Jadi, pelajaran buat semua politisi: jangan sok pintar dengan lidah. Karena kalau mulut sudah kebablasan, jangan salahkan siapa-siapa saat “harimau” itu keluar. Ingat, di era medsos ini, setiap kata adalah bom waktu. Dan Ahmad Sahroni baru saja menekan tombolnya sendiri.

















