Purwakarta – Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Purwakarta resmi memasuki babak baru melalui pelantikan kepengurusan periode 2026–2031. Rhana Cahya Nugraha dipercaya memimpin organisasi tersebut dengan membawa semangat kolaborasi, inovasi, dan penguatan potensi ekonomi kreatif daerah.
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor strategis pembangunan daerah. Tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan kegiatan, kepengurusan baru diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi kreatif yang produktif, berdaya saing, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Rhana Cahya Nugraha menegaskan bahwa Purwakarta memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar, mulai dari kekayaan budaya, kuliner, kriya, fesyen, musik, seni pertunjukan, hingga berbagai subsektor kreatif lainnya.
Namun, menurutnya, potensi tersebut harus dikelola melalui strategi yang tepat, kolaborasi lintas sektor, serta kebijakan yang berpihak pada pertumbuhan pelaku ekonomi kreatif.
“Lokomotif yang kuat lahir dari pembacaan ekosistem. Kita tidak bisa menentukan arah pengembangan ekonomi kreatif hanya berdasarkan asumsi atau keputusan sepihak. Keputusan yang baik harus lahir dari pertemuan antara data, realitas, dan pasar, kemudian disempurnakan dengan kebijakan,” ungkap Rhana kepada Intiporia, 8 November 2026.
Ia menjelaskan, penguatan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Akademisi berperan dalam membaca dan menguatkan data, komunitas memahami realitas di lapangan, pelaku usaha membuka akses pasar, sementara pemerintah daerah memiliki peran strategis melalui regulasi, anggaran, insentif, perizinan, penyediaan ruang kreatif, program, serta koordinasi lintas perangkat daerah.
Menurut Rhana, Komite Ekraf harus mampu menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda.
Dengan keberadaan 21 subsektor ekonomi kreatif, 17 Koordinator Kecamatan pihaknya ingin memastikan setiap subsektor & Korcam memiliki ruang untuk berkembang, berinovasi, membangun jejaring, serta meningkatkan nilai ekonomi dari karya yang dihasilkan.
“Ke depan, setiap subsektor &Korcam tidak hanya memiliki nama dan kepengurusan, tetapi juga harus memiliki program kerja, target, inovasi, serta hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Lima Tahun ke Depan Menjadi Periode Pembuktian
Rhana juga menekankan bahwa periode kepengurusan 2026–2031 harus menjadi periode pembuktian bahwa ekonomi kreatif mampu menjadi kekuatan baru dalam pembangunan daerah.
Ia berharap kreativitas masyarakat tidak berhenti sebagai karya, tetapi dapat berkembang menjadi produk unggulan, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta memperluas akses pasar.
Selain itu, generasi muda Purwakarta diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan turut mengambil peran sebagai penggerak inovasi dan pencipta peluang ekonomi.
“Kita tidak sedang membangun organisasi yang sekadar terlihat aktif, tetapi sedang membangun ekosistem yang benar-benar produktif, inovatif, dan memberikan dampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Mengusung semangat Tumbuh dalam Kolaborasi, Komite Ekraf Purwakarta berkomitmen mendorong sinergi antarpelaku kreatif serta memperkuat identitas produk dan potensi lokal agar semakin dikenal dan memiliki daya saing lebih luas.
Rhana menyadari bahwa membangun ekosistem ekonomi kreatif bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak. Dibutuhkan konsistensi, komunikasi, keterbukaan, dan komitmen bersama.
Melalui kepengurusan baru ini, Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Purwakarta diharapkan dapat menjadi wadah yang inklusif bagi seluruh insan kreatif sekaligus mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi.
Dari Purwakarta, lahir karya. Dari kolaborasi, tumbuh inovasi. Dan melalui ekonomi kreatif, dibangun masa depan.
















