Pasar tradisional selama ini lebih sering dipahami sebagai ruang ekonomi, tempat masyarakat bertemu untuk membeli dan menjual kebutuhan sehari-hari. Padahal, pasar juga dapat menjadi ruang sosial dan budaya karena di dalamnya berlangsung interaksi masyarakat, pertukaran pengetahuan, serta aktivitas ekonomi yang berkaitan langsung dengan kehidupan lokal. Perspektif tersebut menarik ketika diterapkan pada Pasar Sasagaran di Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Pasar Sasagaran mulai berdiri pada Agustus 2025 dengan konsep pasar tradisional yang mengangkat kuliner lokal dan beroperasi pada akhir pekan. Masyarakat Desa Dangdeur menjadi bagian penting dalam aktivitas pasar, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai bagian dari kehidupan sosial yang berlangsung di dalamnya.
Dalam perspektif pariwisata, kondisi semacam ini menarik karena pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi. Aliyah et al. (2020) melihat pasar tradisional sebagai tempat transaksi sekaligus ruang interaksi sosial-budaya, pertukaran produk, dan aktivitas wisata. Karena itu, pasar tradisional memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai cultural product outlet dan destinasi wisata.
Dari titik inilah Pasar Sasagaran menjadi menarik untuk dibaca sehingga menimbulkan pertanyaan “Apakah pasar yang tumbuh dari masyarakat lokal dapat berkembang sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan kuliner tanpa kehilangan karakter aslinya?”
Daya Tarik di Pasar Sasagaran
- Wisata Kuliner
Salah satu kekuatan utama Pasar Sasagaran terletak pada kuliner tradisionalnya. Berbagai jenis makanan dan jajanan dapat ditemukan, mulai dari getuk, dodol, surabi, klepon, onde-onde, awug atau dongkal, kue lapis, dan cilok, hingga makanan berat seperti lontong sayur, kupat tahu, sate maranggi, liwet, ikan bakar, pepes, dan nasi uduk. Berbagai minuman seperti es kelapa, es dolay, es asem, dan es cendol juga menjadi bagian dari pengalaman kuliner di pasar ini.
Ketika makanan tradisional hadir di ruang tempat masyarakat menjalani kehidupannya, pengunjung sebenarnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih luas: cara mengolah makanan, bahan yang digunakan, resep yang diwariskan, cara penyajian, dan interaksi dengan orang yang membuat atau menjualnya. Kuliner
tradisional memiliki keterkaitan erat dengan pemajuan kebudayaan (Hakim & Hamidah, 2022) selain itu, kuliner lokal dapat berfungsi sebagai produk budaya sekaligus media pengenalan identitas suatu daerah kepada wisatawan (Bagaihing & Mantolas, 2021). Maka dari itu, keberagaman kuliner di Pasar Sasagaran dapat dilihat sebagai modal budaya, bukan sekadar daftar menu.
Ellis et al. (2018) menjelaskan bahwa food tourism berkaitan dengan hubungan antara makanan, budaya, tempat, identitas, serta pengalaman wisatawan. Dengan demikian, makanan dapat menjadi bagian dari pengalaman destinasi ketika pengunjung tidak hanya mengonsumsi produk, tetapi juga memperoleh konteks mengenai tempat dan masyarakat yang menghasilkan makanan tersebut. Dalam konteks Pasar Sasagaran, pendekatan tersebut membuka kemungkinan bahwa makanan tradisional dapat menjadi lebih dari sekadar komoditas. Kuliner dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenal identitas lokal, kebiasaan masyarakat, dan karakter wilayah.
Ketika seorang pengunjung datang untuk menikmati sate maranggi, misalnya, pengalaman wisatanya tidak harus berhenti ketika makanan tersebut habis. Pengalaman dapat berkembang melalui interaksi dengan penjual, suasana pasar, aktivitas masyarakat, serta berbagai elemen budaya yang hadir dalam ruang yang sama. Dengan kata lain, kuliner menjadi bagian dari cerita sebuah tempat.
- Wisata Budaya
Pasar Sasagaran juga memiliki unsur budaya yang memperkuat karakter tersebut. Di tengah pasar terdapat panggung permanen yang dapat menjadi ruang pertunjukan bagi masyarakat. Berbagai aktivitas budaya yang ditampilkan antara lain gamelan degung, tari jaipong, nyanyian Sunda, kesenian Jawa Barat, serta nabeuh lisung. Penggunaan kebaya dan pangsi oleh warga yang berjualan juga menjadi bagian dari representasi budaya Jawa Barat. Selain itu, pasar menyediakan ruang bagi produk lokal seperti kerajinan bambu dan kaulinan barudak. Kehadiran unsur-unsur tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik Pasar Sasagaran tidak hanya dibangun oleh produk yang dijual, tetapi juga oleh aktivitas masyarakat yang berlangsung di dalamnya.
Hal ini menjadi penting dalam pengembangan wisata budaya. Budaya tidak selalu harus dikemas sebagai pertunjukan besar yang dibuat khusus untuk wisatawan. Dalam banyak situasi, aktivitas keseharian masyarakat justru dapat menjadi sumber pengalaman yang memiliki karakter lokal. Bagi pengunjung, melihat orang berjualan dengan busana tradisional, menyaksikan kesenian lokal, mendengarkan musik tradisional, atau menemukan kerajinan yang dibuat masyarakat dapat menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan kunjungan ke pusat perdagangan biasa. Dengan demikian, Pasar Sasagaran memiliki potensi untuk mempertemukan kuliner dan budaya dalam satu pengalaman wisata.
Dari Pasar Menjadi Destinasi, Apa yang Dibutuhkan?
Meski memiliki daya tarik, sebuah pasar belum otomatis menjadi destinasi wisata. Pengunjung membutuhkan lebih dari sekadar produk yang menarik. Mereka membutuhkan akses, fasilitas, informasi, dan pengelolaan yang mendukung keseluruhan pengalaman.
Pengunjung juga membutuhkan kemudahan untuk mencapai lokasi, fasilitas yang memadai, dan pengelolaan yang membuat seluruh pengalaman tersebut dapat berlangsung dengan nyaman. Karena itu, pengembangan Pasar Sasagaran dapat dibaca melalui konsep
4A yaitu Attraction, Accessibility, Amenities, dan Ancillary Services (Cooper, 2005). Kerangka ini dapat membantu melihat kondisi yang sudah ada sekaligus kebutuhan pengembangan destinasi.
- Attraction
Dari sisi attraction, Pasar Sasagaran sebenarnya sudah memiliki modal yang cukup beragam. Terdapat kuliner tradisional, kesenian, kerajinan, aktivitas masyarakat, dan suasana pasar itu sendiri. Daya tarik tersebut menjadi semakin penting karena tidak semuanya mudah direplikasi di tempat lain.
- Accessibility
Pengalaman wisata tidak hanya dimulai ketika pengunjung masuk ke pasar, tetapi sejak mereka berusaha mencapai lokasi, menemukan area parkir, memasuki kawasan, dan bergerak di dalamnya. Karena itu, aspek akses, sirkulasi, kenyamanan, keselamatan, dan kemudahan bergerak menjadi bagian dari pengembangan destinasi.
- Amenities
Fasilitas yang mendukung kebutuhan pengunjung. Dalam konteks pasar, fasilitas tersebut dapat berupa toilet, area makan, tempat duduk, air, kebersihan, tempat sampah, penerangan, informasi, keamanan, hingga kemudahan transaksi.
- Ancillary Services
Bagian terakhir yang berkaitan dengan siapa yang mengelola pasar dan bagaimana destinasi tersebut dijalankan. Di dalamnya termasuk pembagian peran, aturan operasional, promosi, layanan informasi, hubungan dengan pemerintah, kemitraan, dan evaluasi pengembangan.
Jika dilihat dari kondisi aktual, Pasar Sasagaran telah memiliki elemen-elemen awal tersebut. Tantangan berikutnya adalah bagaimana berbagai elemen itu saling terhubung sehingga pengunjung tidak hanya mendapatkan tempat untuk makan, tetapi sebuah pengalaman wisata yang utuh.
Berkembang dengan Perspektif Berkelanjutan (Sustainable Tourism)
Pertanyaan selanjutnya adalah: “Dapatkah Pasar Sasagaran berkembang sebagai destinasi wisata dengan masyarakat dan lingkungan yang juga ikut mendapatkan manfaat?.
Konsep keberlanjutan menjadi penting pada titik ini. UNEP dan UNWTO (2005) menekankan pentingnya memperhatikan dampak jangka panjang kegiatan pariwisata terhadap masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks Pasar Sasagaran, perspektif tersebut dapat dilihat melalui aspek ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan.
Dari sisi ekonomi, pasar telah menjadi ruang usaha bagi UMKM dan menciptakan perputaran ekonomi masyarakat Desa Dangdeur. Dari sisi sosial-budaya, aktivitas pasar berkaitan dengan pelestarian kuliner tradisional, ruang pertunjukan kesenian, identitas lokal, interaksi masyarakat, dan partisipasi lintas generasi. Sementara itu, aspek lingkungan mulai diperhatikan melalui penyediaan tempat sampah di beberapa titik, praktik pengembalian piring kepada penjual, serta area inti yang bebas kendaraan. Namun, pengelolaan sampah dan limbah makanan masih menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengembangan pasar ke depan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup dipahami sebagai “menjaga lingkungan”. Keberlanjutan juga menyangkut pertanyaan mengenai siapa yang memperoleh manfaat dari kegiatan wisata, bagaimana budaya lokal dipertahankan, dan bagaimana pertumbuhan destinasi tidak justru mengurangi kualitas lingkungan maupun kehidupan masyarakat.
Melihat Masa Depan Pasar Sasagaran sebagai Wisata Berbasis Lokal
Pasar Sasagaran saat ini masih berada dalam tahap awal perkembangannya. Karena itu, potensinya sebagai destinasi wisata tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang sudah final, melainkan sebagai peluang yang masih perlu dikembangkan dan dikelola. Apa yang sudah terlihat cukup jelas adalah adanya pertemuan antara kuliner tradisional, budaya lokal, masyarakat, dan ruang sosial. Kombinasi inilah yang memberikan karakter pada Pasar Sasagaran dan menjadi dasar penting dalam melihat peluang pengembangannya sebagai destinasi wisata.
Bagi Purwakarta, keberadaan pasar seperti ini dapat menjadi contoh bahwa pengembangan pariwisata tidak selalu harus dimulai dari pembangunan destinasi baru. Pariwisata juga dapat tumbuh dari ruang yang sudah dimiliki masyarakat, selama nilai lokalnya dikenali, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, Pasar Sasagaran tidak harus menjadi seperti destinasi wisata lainnya untuk menarik pengunjung. Justru keunikan pasar ini terletak pada apa yang sudah dimilikinya yaitu makanan tradisional, aktivitas budaya, produk lokal, dan masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan pasar itu sendiri.
Tantangannya tinggal bagaimana semua potensi tersebut dikembangkan menjadi sebuah pengalaman wisata yang menarik, memberi manfaat bagi masyarakat, dan tetap menjaga identitas serta keberlanjutan lingkungan. Karena sebuah destinasi wisata yang baik bukan hanya tempat yang membuat orang datang. Melainkan tempat yang membuat orang mengenal, mengalami, dan mengingat sebuah daerah.
















