Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu perbincangan hangat di jagat maya setelah mengunggah konten video dengan latar musik milik komedian Pandji Pragiwaksono. Langkah ini diduga kuat sebagai respons tersirat atas materi stand-up comedy satire politik bertajuk Mens Rea yang menempatkan nama Gibran sebagai salah satu objek bahasannya.
Dalam pertunjukan spesial yang tayang di Netflix mulai 27 Desember 2025 tersebut, Pandji melontarkan kritik tajam mengenai keabsurdan budaya hukum dan politik di Indonesia.
Salah satu kutipan Pandji yang viral menyatakan kekecewaannya terhadap institusi negara hingga menutupnya dengan kalimat, “wakil presiden kita Gibran”. Potongan pernyataan tersebut sempat mendominasi percakapan di media sosial karena dianggap sangat frontal dalam menyentil posisi sang Wakil Presiden.
Gibran Rakabuming Raka merespons fenomena tersebut tanpa pernyataan resmi maupun konfrontasi verbal.
Melalui akun Instagram pribadinya, ia membagikan video kunjungannya ke DossGuavaXR Studio sambil menekankan pentingnya kolaborasi teknologi bagi generasi muda agar industri film Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Namun, fokus warganet justru tertuju pada audio yang digunakan, di mana Gibran secara spesifik memilih “Lagu Melayu” karya Pandji Pragiwaksono sebagai musik latar videonya.
View this post on Instagram
Aksi “balas pantun” melalui media sosial ini menuai berbagai tanggapan dari netizen yang membanjiri kolom komentar dengan beragam perspektif. Akun rymndps menyebut tindakan ini sebagai puncak komedi karena membalas kritik lewat kinerja menggunakan lagu dari orang yang dianggapnya hanya bisa bicara.
Sementara itu, akun putric_ memberikan apresiasi dengan menyebut aksi tersebut “menyala”, dan akun alyakbar__ secara singkat memuji kreativitas unggahan tersebut sebagai hal yang keren. Di sisi lain, terdapat pula warganet seperti akun zeinassagaf_ yang memilih untuk menuliskan kembali kutipan keresahan Pandji sebagai bentuk pengingat atas narasi awal yang memicu keheboan ini.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran gaya komunikasi politik di era digital, di mana seorang pejabat publik memilih merespons kritik melalui kurasi konten kreatif ketimbang pernyataan formal yang kaku. Hingga saat ini, pihak Pandji Pragiwaksono belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai penggunaan lagunya di unggahan resmi sang Wakil Presiden.

















