Kabar duka itu datang dari RSPAD Gatot Subroto. Senin, 2 Maret 2026 pagi, tepat pukul 06.58 WIB, Indonesia kehilangan salah satu kepingan sejarah militernya. Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, tutup usia di umur 90 tahun.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, telah memastikan pemerintah akan memberikan penghormatan militer terbaik untuk almarhum.
“Benar (Wapres Ke-6 Try Sutrisno meninggal dunia). Kita berdukacita sangat mendalam,” kata Prasetyo, dilansir dari Antara.
Namun, membicarakan sosok Try Sutrisno hari ini bukan sekadar mengulang berita duka yang mungkin sudah hilir mudik di linimasa sejak kemarin.
Membicarakan Try adalah membicarakan sebuah epos tentang anak laki-laki dari Jawa Timur yang merangkak dari palagan revolusi hingga duduk di kursi tertinggi kedua di republik ini.
Try Sutrisno Remaja di Garis Depan
Bayangkan seorang anak usia 13 tahun di zaman sekarang. Mungkin mereka sedang sibuk dengan gawai atau pusing memikirkan tugas sekolah. Tapi mundur ke tahun 1948, Try Sutrisno yang baru puber itu sudah bergabung dengan Batalyon Poncowati di Kediri.
Tugasnya bukan main-main: menjadi kurir markas tentara. Ia harus keluar masuk wilayah pendudukan Belanda, mencari informasi intelijen, dan menembus blokade demi mengambil pasokan obat-obatan untuk Angkatan Darat. Di usianya yang masih sangat belia, nyawa sudah ia pertaruhkan di ujung bedil.
Ketangguhan mental dari masa revolusi fisik itulah yang seolah memuluskan jalan Try muda. Selepas menamatkan SMA pada 1956, ia masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung dan lulus tiga tahun kemudian dengan pangkat Letnan Dua Zeni.
Dari Hutan Tempur hingga Puncak Komando
Sejak saat itu, nama Try Sutrisno seolah tak pernah absen dari buku sejarah operasi militer Indonesia. Ia dikirim untuk menumpas PRRI, diterjunkan menghadapi DI/TII di Aceh, ikut serta dalam Operasi Trikora membebaskan Irian Barat, penumpasan G30S 1965, hingga terjun dalam Operasi Seroja di Timor Timur.
Kariernya menanjak dengan rute yang rapi dan teruji. Ia merintis kepemimpinan teritorial dari Pangdam IV/Sriwijaya lalu ditarik ke ibu kota menjadi Pangdam V/Jaya. Puncak karier di matra darat ia rengkuh saat tongkat komando Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) mampir di tangannya pada 1986. Hanya butuh satu tahun baginya untuk menyandang pangkat jenderal penuh, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi Panglima ABRI pada 1988, menggantikan posisi L.B. Moerdani.
Seni Tahu Kapan Harus Berhenti
Puncak kepemimpinannya di institusi militer mengantarkan Try ke panggung eksekutif. Pada Sidang Umum MPR 1993, ia terpilih menjadi Wakil Presiden ke-6 RI mendampingi Soeharto untuk masa bakti 1993–1998.
Namun, hal paling menarik dari kiprah politik seorang Try Sutrisno justru terjadi di penghujung masa jabatannya. Di saat banyak pejabat negara tergoda untuk terus berkuasa, Try mengambil langkah yang elegan: ia secara terbuka menyatakan ketidaksediaannya untuk dicalonkan kembali.
Ia memilih untuk merawat sebuah tradisi tak tertulis dari para pendahulunya—mulai dari Sultan Hamengkubuwono IX hingga Sudharmono—yang konsisten mencukupkan diri mengabdi sebagai wakil presiden selama satu periode saja. Keputusan “tahu diri” inilah yang kemudian memberi karpet merah bagi B.J. Habibie untuk naik ke kursi RI-2 pada Sidang Umum MPR 1998.
Pengabdian yang Menolak Pensiun
Lengser dari kursi kekuasaan tak membuat Try Sutrisno pulang ke rumah dan sekadar menikmati masa tua. Jiwa kurir Batalyon Poncowati itu rupanya masih menyala. Di masa purnatugasnya, ia memimpin Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri), menjadi Ketua Dewan Pembina PKPI, dan terakhir di usia senjanya masih bersedia memikul amanat sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) periode 2022–2027.
Kini, dari rumah duka di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat, persiapan pemakaman militer kenegaraan tengah disiapkan untuknya. Sang jenderal telah paripurna menunaikan tugasnya. Selamat jalan, Jenderal Try.
















