Pulau Jawa merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, namun di balik kemajuan pembangunannya, terdapat struktur geologi masif yang perlu Kita waspadai. Salah satu ancaman seismik yang paling signifikan adalah Sesar Baribis-Kendeng, sebuah sistem patahan aktif yang secara ilmiah dikenal sebagai Java Back-arc Thrust.
Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa sesar ini bukan sekadar garis di peta, melainkan sistem kompleks yang membentang dari barat hingga timur, tepat di sisi utara busur vulkanik Jawa.
Wilayah yang Dilewati Sesar Baribis
Berdasarkan data penelitian geologi dan catatan dari Ekspedisi Sesar Baribis 2024, sesar ini melintasi berbagai wilayah strategis dan padat penduduk. Keberadaannya menjadi perhatian khusus karena melewati kawasan perkotaan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan.
Berikut adalah daftar Kabupaten dan Kota yang dilewati oleh jalur Sesar Baribis:
- Provinsi Banten: Tangerang dan Rangkasbitung.
- DKI Jakarta: Melintasi sisi selatan Jakarta sepanjang kurang lebih 25 Km.
- Provinsi Jawa Barat: Bekasi (Cibatu), Depok, Bogor, Karawang, Purwakarta (sisi barat), Subang, Indramayu (sisi selatan), Sumedang, Majalengka, dan Cirebon.
Jalur ini terus menerus memanjang hingga ke bagian timur Pulau Jawa melalui sistem Kendeng, menjadikannya salah satu sistem sesar terpanjang di tanah Jawa.
Keaktifan Sesar Baribis bukanlah sekadar prediksi masa depan, melainkan fakta yang terekam dalam sejarah. Setidaknya ada dua peristiwa besar yang diduga kuat berkaitan dengan pergeseran sesar ini:
- Gempa Bogor 1834: Gempa dengan kekuatan estimasi 7.0 Mw yang menyebabkan kerusakan massal di wilayah Bogor dan sekitarnya. Saat itu, populasi penduduk masih jauh lebih sedikit dibandingkan sekarang.
- Gempa Karawang 1862: Pergeseran sesar kembali memicu guncangan hebat dengan kekuatan 6.5 Mw yang merusak wilayah Karawang dan sekitarnya.
- Penelitian Sonny Aribowo dari BRIN yang diterbitkan dalam jurnal Tectonics (2022) menunjukkan bahwa segmen tertentu, seperti segmen Tampomas, telah aktif setidaknya sejak 50.000 tahun yang lalu hingga saat ini.
Ekspedisi dan Ingatan Kolektif
Pada Mei 2024, sebuah tim lintas disiplin yang terdiri dari 12 peneliti muda memulai Ekspedisi Sesar Baribis. Uniknya, ekspedisi ini tidak hanya menggunakan pendekatan teknologi seperti Digital Elevation Model (DEM) dan geodesi, tetapi juga pendekatan sosial-budaya.
Tim peneliti yang melibatkan ahli sejarah, antropologi, dan sosiologi ini menggali “Ingatan Kolektif” masyarakat lokal. Di beberapa tempat, seperti Desa Nunuk di Majalengka, terdapat kearifan lokal berupa upacara adat pasca-gempa yang menunjukkan bahwa leluhur kita sebenarnya memiliki catatan bencana dalam bentuk tradisi lisan, syair, maupun legenda. Menggabungkan data ilmiah modern dengan kearifan lokal sangat penting untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih humanis dan mudah diterima masyarakat.
Tujuan utama dari publikasi riset-riset ini adalah untuk membangun kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Tantangan terbesar saat ini adalah pertumbuhan penduduk yang pesat dan pembangunan fisik yang seringkali belum mempertimbangkan aspek ketahanan gempa.
Jika sumber gempa dapat dipetakan dengan akurat, para pemangku kepentingan dapat mengatur strategi tata ruang yang lebih baik. Harapannya, bangunan-bangunan di masa depan dapat berdiri kokoh menghadapi guncangan, sehingga risiko korban jiwa dan kerugian materiil dapat diminimalisir secara signifikan.

















