Meskipun tensi geopolitik global antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, pemerintah Indonesia menegaskan belum mengambil langkah untuk mengubah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah masih mencermati volatilitas pasar energi sebelum mengambil langkah strategis. Hingga saat ini, stabilitas harga masih menjadi prioritas karena kondisi fiskal yang dinilai masih kuat.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Meski harga minyak jenis Brent sempat menyentuh 118 dolar AS per barel, sebagaimana dikutip Antara dari berita Sputnik, Menkeu menyebut bahwa APBN masih memiliki ruang untuk menahan dampak tersebut. Namun, keputusan final akan sangat bergantung pada evaluasi tren harga dalam jangka pendek.
“Sekarang belum saatnya mengambil keputusan, karena uangnya masih cukup. Kita lihat kondisi seperti apa. Nanti setelah sebulan, kami prediksi harga minyak seperti apa sehingga kami bisa mengambil kebijakan yang pas,” tuturnya.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan jaminan bahwa pasokan BBM nasional dalam kondisi aman, terutama di tengah periode puasa dan Idul Fitri 2026. Ia memastikan bahwa meskipun harga minyak dunia melambung jauh di atas rata-rata Januari 2026, stok untuk kebutuhan masyarakat tetap andal.
Purbaya Yudhi Sadewa pun berharap masyarakat tidak perlu panik dalam menavigasi gejolak dunia ini. Ia meyakini pengalaman Indonesia dalam menghadapi lonjakan harga minyak di masa lalu menjadi modal penting dalam pengambilan kebijakan kali ini.
“Anda percaya saja, saya cukup pintar, kok. Kita sudah mengalami harga minyak tinggi beberapa kali, nggak hancur negaranya, kan. Kenapa? Karena kebijakannya pas,” tambahnya dengan nada optimis.















