Bencana mematikan terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Gunungan sampah raksasa di zona 4A mengalami longsor hebat pada Ahad, 8 Maret 2026. Insiden ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas operasional pengolahan sampah, tetapi juga menelan belasan korban jiwa.
Berdasarkan data dari Kantor SAR, total terdapat 13 korban dalam peristiwa nahas tersebut. Sebanyak tujuh orang ditemukan meninggal dunia setelah proses pencarian intensif menggunakan alat berat, sementara enam korban lainnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Para korban tewas diketahui terdiri dari sopir truk sampah, pemulung, hingga pemilik warung yang berada di sekitar lokasi.
Tragedi ini terjadi sangat cepat pada sore hari, tepat ketika aktivitas pembuangan sedang padat-padatnya. Anggota Rescue Damkar Kota Bekasi, Eko Uban, menjelaskan kronologi jatuhnya material longsoran yang menimpa para pekerja di bawahnya.
“Pada saat truk sampah antre mau buang sampah sekitar pukul 14.30 WIB, tiba-tiba tumpukan sampah longsor sehingga sopir yang antre untuk buang sampah tertimbun longsoran,” ungkap Eko dikutip dari Tempo, 11 Maret 2026.
Faktor cuaca ditengarai menjadi pemicu utama ambrolnya gunungan sampah yang diperkirakan setinggi 50 meter tersebut. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengonfirmasi bahwa curah hujan yang ekstrem di kawasan Jabodetabek membuat tumpukan sampah menjadi labil.
“Kemarin karena curah hujannya itu tinggi sekali. Kemarin itu 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta. Karena hujan yang lama masuk ke dalam sampah, menyebabkan sliding atau licin kemudian longsor ke bawah,” jelas Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3/2026).
Selain merenggut nyawa, imbas longsoran ini juga berdampak parah pada lingkungan sekitar. Material sampah dalam volume besar tumpah menutupi jalan operasional truk dan membendung aliran Sungai Ciketing sepanjang kurang lebih 40 meter.
Terkait hal ini, pemerintah menyatakan akan memprioritaskan pembersihan sisa material agar tidak memicu banjir atau masalah lingkungan baru.
“Terutama Sungai Ciketing-nya, agar segera bisa normal kembali. Tempat itu begitu tertutup maka jalannya juga tertutup, di lapangan kelihatan sekali. Dan untuk itu segera akan dinormalkan kembali,” pungkas Pramono.

















