Arah kebijakan geopolitik Indonesia serta tinjauan sejarah mengenai peran Amerika Serikat (AS) memicu perdebatan sengit antara pegiat media sosial Abu Janda, pakar politik Prof. Ikrar Nusa Bhakti, dan pakar hukum tata negara Feri Amsari. Ketegangan adu argumen ini mewarnai diskusi terkait langkah Presiden Prabowo Subianto di kancah internasional.
Dalam tayangan diskusi tersebut, Abu Janda melontarkan pembelaan kuat terhadap rekam jejak AS dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menilai narasi anti-Amerika yang selama ini berkembang di masyarakat sering kali didasari oleh sentimen kebencian buta yang mengabaikan fakta sejarah.
“Tiba-tiba tahun ’49 Belanda mudik karena siapa? Karena ditekan Amerika,” tegas Abu Janda dalam tayangan YouTube Official iNews, 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa AS saat itu secara tegas mengancam akan menghentikan bantuan Marshall Plan kepada Belanda jika mereka masih menjajah Indonesia. Tekanan inilah yang kemudian memaksa Belanda duduk di Konferensi Meja Bundar (KMB). Lebih lanjut, Abu Janda juga mendukung penuh langkah Prabowo yang dinilai realistis merapat ke AS guna memutus aliran dana dari rezim Iran kepada kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.
Pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan keras dari Prof. Ikrar Nusa Bhakti. Sang profesor mengingatkan bahwa intervensi AS pada rentang 1948-1949 bukan murni didasari oleh niat baik, melainkan karena ketakutan AS bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis pasca-pemberontakan Madiun.
Prof. Ikrar juga membuka sisi lain dari sejarah, yakni ketika AS pada dekade awal kemerdekaan justru sempat menyokong pemberontakan daerah seperti PRRI dan Permesta guna memecah belah Indonesia, sebelum akhirnya kebijakan luar negeri AS berubah di era kepemimpinan Presiden John F. Kennedy.
Sementara itu, Feri Amsari mengambil sudut pandang dari aspek kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Gaza. Feri mengkritik keras sikap yang terlalu mengekor pada kebijakan AS, yang ia nilai justru menjadikan Indonesia tak ubahnya seperti kaki tangan atau “antek asing”.
Feri turut mengingatkan publik mengenai utang budi sejarah bangsa Indonesia terhadap Palestina. Ia merujuk pada adanya sumbangan finansial dari saudagar Palestina melalui Agus Salim pada masa awal perjuangan kemerdekaan.
Argumen Feri ini langsung dipotong oleh Abu Janda yang merespons dengan nada tinggi. Abu Janda menyebut bahwa narasi yang mengklaim Palestina sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 adalah sebuah hoaks, mengingat pada saat itu negara Palestina belum terbentuk secara resmi.
















