Kalau selama ini Anda menganggap kumpul kebo itu urusan “abu-abu” karena tidak diatur secara gamblang, siap-siap hapus pikiran itu sekarang. Dalam KUHP Lama (WvS), kohabitasi atau kumpul kebo memang tidak secara spesifik diatur sebagai tindak pidana. Biasanya, aparat hanya bisa “menyenggol” pelaku lewat pasal perzinaan atau pelanggaran kesusilaan umum yang pasalnya sering kali karet.
Tapi jangan salah sangka, KUHP Baru (UU No. 1/2023) kini bicara lebih blak-blakan dengan mengkriminalisasi kohabitasi secara eksplisit lewat Pasal 412. Jadi, buat yang berpikir bisa bebas hidup bersama tanpa ikatan sah hanya karena merasa “aman” di balik pintu kamar hotel, sebaiknya baca dulu catatan edukasi ini sebelum nasib Anda berakhir di balik jeruji besi.
Sanksi yang Tidak Main-main: Penjara Itu Nyata!
Jangan pernah meremehkan status “hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan”. Negara sudah menyiapkan “kado” pahit bagi pelakunya. Berdasarkan Pasal 412 ayat (1), mereka yang terbukti melakukan kohabitasi terancam:
- Pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan.
- Pidana denda paling banyak kategori II.
Mungkin ada yang membatin, “Ah, cuma enam bulan, sebentar itu.” Tapi ingat, begitu ketok palu hakim berbunyi, status Anda resmi jadi mantan narapidana dengan catatan kriminal yang permanen. Denda kategori II pun bukan sekadar angka recehan; itu adalah sanksi finansial yang didesain agar pelakunya kapok karena telah melanggar norma hukum yang berlaku.
Bom Waktu di Tangan Keluarga (Delik Aduan Absolut)
Memang benar, Pasal 412 ini adalah delik aduan absolut. Artinya, polisi tidak akan melakukan penuntutan kecuali ada laporan resmi dari pihak yang punya “legal standing”. Namun, daftar orang yang punya hak lapor ini justru adalah mereka yang paling tahu gerak-gerik Anda:
- Suami atau istri bagi orang yang sudah terikat perkawinan.
- Orang tua atau anak bagi orang yang tidak terikat perkawinan.
Ini bukan berarti Anda “aman” dari pengawasan, melainkan peringatan bahwa keluarga inti Anda memegang tombol darurat untuk memproses Anda secara hukum kapan saja jika mereka merasa martabat keluarga dikhianati.
Memang, pengaduan ini bisa ditarik kembali selama pemeriksaan di sidang pengadilan belum dimulai, tapi apakah Anda mau mempertaruhkan reputasi hanya demi menunggu belas kasihan keluarga di kantor polisi?
KUHP Baru hadir bukan untuk melegalkan gaya hidup bebas, tapi justru untuk mempertegas sanksinya. Jika dulu kumpul kebo dianggap remang-remang, sekarang hukumannya sudah terpampang nyata di Pasal 412.
Negara sedang memberikan edukasi keras: hargailah lembaga perkawinan dan hormati keluarga Anda. Jangan jadikan mekanisme “delik aduan” sebagai celah untuk berani melanggar norma. Sebab, begitu orang terdekat Anda kehilangan kesabaran dan melapor, dinginnya sel penjara sudah siap menyambut Anda. Jadi, daripada sibuk cari celah hukum saat check-in, lebih baik tetap tegak lurus pada aturan yang ada.

















