Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Venezuela yang memuncak pada penyerangan di Caracas pekan lalu dipastikan tidak akan menggoyahkan sektor energi di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal positif bahwa situasi tersebut belum memberikan tekanan berarti pada harga minyak mentah global maupun distribusi stok nasional.
Sebagaimana yang diberitakan Antara, kendati Venezuela merupakan pemegang cadangan minyak bumi terbesar di dunia, dampak pasar dari krisis di sana diprediksi sangat minim.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh kapasitas produksi harian Venezuela yang belum maksimal.
“Tidak ada dampak signifikan terhadap kondisi perdagangan minyak dan harga,” ujar Anggia saat memberikan keterangan pada Selasa (6/1).
Menurutnya, produksi harian Venezuela yang masih di bawah 1 juta barel minyak per hari (barrel oil per day/BOPD) membuat pengaruh negara tersebut terhadap suplai dunia tidak sekuat rasio cadangannya.
Anggia juga membandingkan kerawanan pasar jika konflik serupa terjadi di Timur Tengah. Karena dominasi negara-negara OPEC di wilayah Timur Tengah, stabilitas harga global di sana cenderung lebih sensitif terhadap isu geopolitik.
“Jadi, harga minyak bisa menjadi sangat dinamis,” ucap Anggia.
Dari sisi ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tanah air, pemerintah memberikan jaminan keamanan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap minyak mentah (crude) asal Venezuela hampir tidak ada, sehingga gangguan di kawasan tersebut tidak memengaruhi stok nasional secara langsung.
Dikutip dari Antara, Laode menjelaskan bahwa Indonesia memiliki mitra pasokan dari kawasan lain yang lebih stabil.
“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” jelasnya usai menghadiri penutupan Posko Nasional Sektor ESDM, Senin, 5 Januari 2026.
Meski dampak langsung belum terlihat, Kementerian ESDM tetap memprioritaskan penguatan ketahanan energi nasional sebagai bentuk kewaspadaan. Langkah strategis yang tengah digalakkan meliputi optimalisasi produksi migas domestik serta peningkatan cadangan strategis nasional.
Upaya ini dipandang krusial sebagai “benteng” Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik di masa depan. Laode Sulaeman kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memantau pergerakan pasar internasional.
“Antisipasi itu selalu ada,” pungkas Laode singkat.
Hingga berita ini diturunkan, pasar minyak internasional terpantau masih bergerak dalam rentang normal, merespons aksi militer Amerika Serikat di Caracas yang dilaporkan terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026 lalu.

















