Dampak bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera Utara sepanjang 2025 terus menunjukkan angka signifikan. Berdasarkan data terbaru Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Tahun 2025 milik BNPB, hingga 23 Desember 2025 tercatat 1.113 orang meninggal dunia, 176 orang hilang, dan sekitar 7.000 orang mengalami luka-luka.
Bencana tersebut berdampak pada 52 kabupaten/kota, dengan kerusakan mencapai 158.088 unit rumah. Selain hunian warga, fasilitas umum, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jembatan turut mengalami kerusakan, sehingga menghambat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Seiring meningkatnya jumlah korban, pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat penanganan darurat, termasuk pembersihan material banjir berupa lumpur dan kayu limbah bencana yang menutup akses jalan dan permukiman.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadi salah satu instansi yang terlibat aktif di lapangan. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Kemenhut, Subhan, menegaskan bahwa pembersihan menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana.
“Kami mengerahkan personel dan peralatan secara maksimal agar pembersihan tumpukan kayu limbah bencana dapat segera diselesaikan. Fokus utama kami adalah membuka akses, membersihkan fasilitas pendidikan dan rumah warga, serta memastikan lingkungan kembali aman,” ujar Subhan dalam keterangannya, Selasa, 23 Desember 2025.
Upaya penanganan darurat dipastikan terus berjalan seiring proses pendataan korban dan kerusakan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak di Aceh dan Sumatera Utara.

















