Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memiliki beragam tantangan dan solusi dalam proses pengajarannya, tidak terkecuali pada tingkat sekolah dasar. Aktivitas pengajaran PJOK menyimpan tantangan yang kompleks, seperti perbedaan kebugaran fisik hingga pengelolaan motivasi siswa.
Rian Hardiana, seorang guru PJOK, memaparkan bagaimana strategi adaptif menjadi kunci dalam memastikan materi olahraga dapat diterima dengan baik oleh seluruh siswa sekolah dasar.
“Kemampuan fisik siswa sangat beragam. Ada yang sudah terbiasa berolahraga, ada pula yang baru mulai beradaptasi,” ujar Rian saat diwawancarai di sela kegiatannya mengajar di salah satu SD Negeri 1 Cipeundeuy, Bojong, Purwakarta pada 10 Februari 2026.
Menyikapi perbedaan tersebut, Rian menerapkan beragam strategi yang adaptif melalui metode diferensiasi latihan. Menurutnya, interaksi pengajaran terhadap siswa perlu didorong dengan penguatan yang positif dan aktivitas yang variatif, berdasarkan tingkat kemampuan siswa dengan tujuan latihan yang terukur.
“Kadang semangat siswa naik turun. Untuk itu kami menggunakan penguatan positif, variasi aktivitas, dan tujuan latihan yang terukur,” tambahnya.
Dalam hal teknis di lapangan, efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas. Menurut Rian, sarana yang memadai tidak hanya memungkinkan variasi aktivitas yang lebih luas, tetapi juga menjamin keamanan siswa selama berlatih.
Terkait risiko cedera, Rian mencatat bahwa kasus terkilir dan keseleo merupakan hal yang paling sering ditemui pada kalangan siswa tingkat sekolah dasar.
“Pencegahannya dilakukan melalui pemanasan yang benar, teknik gerak yang tepat, dan pengawasan selama aktivitas,” tegasnya.
Bagi siswa yang memiliki trauma atau kurang percaya diri, ia menerapkan pendekatan emosional yang membangkitkan motivasi siswa serta menghadirkan merasa aman saat mencoba gerakan baru.
Rian menilai kurikulum olahraga saat ini sebenarnya sudah relevan, namun tetap membutuhkan penyesuaian terhadap perkembangan psikologis dan fisik siswa. Salah satu inovasi yang ia dorong adalah penggunaan teknologi seperti video analisis gerak untuk memberikan evaluasi visual yang objektif kepada siswa.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran PJOK tidak hanya diukur dari ketangkasan fisik, melainkan juga dari kedisiplinan dan sportivitas. Untuk meredam ego kelompok, ia rutin menggunakan permainan kooperatif dan sesi refleksi bersama.
Melalui pendekatan yang terstruktur ini, diharapkan kualitas pembelajaran olahraga di sekolah tidak hanya membina raga, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan nilai-nilai karakter siswa.
Ditulis oleh Suryana
















