Ada satu masa di medio 2000-an, tepatnya saat layar kaca kita masih didominasi oleh drama perebutan harta warisan, tiba-tiba muncul seorang pria dengan tatapan sayu namun mematikan bernama Michael Scofield. Saat itu, Prison Break bukan sekadar tontonan, ia adalah standar baru tentang bagaimana cara menjadi keren tanpa perlu banyak bicara.
Melihat kembali sosok Michael hari ini, kita seperti sedang meratapi hilangnya spesies manusia yang benar-benar “niat”.
Scofield adalah antitesis dari karakter utama zaman sekarang yang sering kali mendapatkan kekuatan lewat jalur “keajaiban” atau plot armor yang nggak masuk akal. Michael nggak punya kekuatan super, dia nggak punya bekingan orang dalam di pemerintahan (malah musuhnya orang dalam semua), dan dia nggak bisa bela diri sehebat John Wick. Senjata utamanya cuma satu: otak yang encer dan ketenangan yang bikin kita curiga kalau dia ini sebenarnya nggak punya saraf ketakutan.
Kalau kita refleksi lagi, Michael ini adalah martir bagi kaum overthinker. Dia adalah bukti bahwa kalau kamu memikirkan sesuatu sampai sedetail-detailnya—bahkan sampai menggambar jalur pipa air di sela-sela tato gambar iblis di badanmu—maka tembok setebal apa pun bisa ditembus.
Sayangnya, melihat film atau serial thriller hari ini, kita jarang menemukan sosok se-metodis Michael. Sekarang, kalau ada karakter terjepit di penjara, solusinya kalau nggak pakai teknologi canggih yang tiba-tiba muncul, ya pakai adu jotos yang bikin kamera goyang-goyang. Michael mengajarkan kita keindahan dari sebuah proses: menyikat lantai, mengikis tembok pakai sendok, sampai menata origami burung bangau sebagai kode cinta sekaligus kode pelarian.
Mungkin itu sebabnya Prison Break tetap awet di kepala kita. Di tengah dunia yang makin instan, sosok Michael Scofield adalah pengingat bahwa untuk mencapai kebebasan yang hakiki, seseorang memang harus rela menderita, berkorban, dan yang paling penting: punya tato yang lebih informatif daripada Google Maps.
Lihat Tato Michael Scofield, Bukan Lagi Soal Labirin
Bagi masyarakat Indonesia yang dibesarkan dengan tontonan sinetron di mana masalah selesai hanya dengan kecelakaan lalu amnesia, mengenal Prison Break adalah sebuah kejutan budaya. Kita diperkenalkan dengan Michael Scofield, seorang insinyur jenius yang punya cara unik untuk menunjukkan rasa sayang pada kakaknya, Lincoln Burrows.
Kalau kakak kita masuk penjara karena difitnah, biasanya respons kita paling mentok adalah lapor Komnas HAM, sewa pengacara yang hobi pamer cincin, atau minimal bikin status Facebook pakai tagar #SaveAbangGue. Tapi Michael beda. Dia memilih merampok bank, menyerahkan diri, lalu minta dijebloskan ke penjara yang sama dengan kakaknya. Sebuah rencana yang bagi orang waras terdengar seperti: “Sudah jatuh, tertimpa tangga, eh tangganya sengaja dijatuhin sendiri.”
Puncak dari kegilaan Michael adalah tatonya.
Di saat orang-orang di kampung kita bikin tato gambar macan yang kalau sudah tua malah mirip kucing anggora, Michael membuat tato seluruh badan yang isinya adalah denah penjara Fox River. Ini adalah level “niat” yang melampaui batas kewajaran. Bayangkan betapa pegalnya Mas-mas tukang tato yang harus menggambar pipa air, jalur kabel, sampai ventilasi udara di punggung Michael. Salah garis sedikit, Michael bukannya bebas, malah nyasar ke gudang beras.
Nonton Prison Break itu membuat kita sadar bahwa menjadi pintar itu melelahkan. Michael harus menghitung waktu kapan sipir lewat, kapan tekanan air berubah, sampai harus pura-pura kena diabetes supaya bisa bolak-balik ke ruang kesehatan demi mendekati Dokter Sara Tancredi. Padahal, kalau di sini, mau mendekati dokter cukup modal nanya “Lagi apa?” di WhatsApp, nggak perlu sampai nyuntik insulin palsu.
Tapi ya itulah daya tariknya. Michael Scofield mengajarkan kita bahwa tato bukan cuma soal estetika atau tanda anak punk yang hobi nongkrong di perempatan. Tato adalah dokumen negara. Tato adalah harapan.
Meskipun ya, kalau Michael hidup di Indonesia dan nekat pakai cara yang sama, rencana itu mungkin gagal di hari pertama. Bukan karena tatonya ketahuan, tapi karena pas dia mau kabur lewat lubang pembuangan, eh, lubangnya mampet gara-gara sampah plastik dan bungkus deterjen.
Pada akhirnya, Prison Break musim pertama adalah mahakarya soal bagaimana otak encer bisa mengalahkan jeruji besi. Soal musim-musim selanjutnya yang ceritanya makin dipaksakan dan Michael jadi kayak kucing yang punya nyawa sembilan, itu urusan lain. Yang jelas, gara-gara Michael, kita jadi tahu kalau mau bolos sekolah atau kabur dari kenyataan, minimal kita harus punya rencana yang digambar rapi. Bukan cuma modal nekat dan doa orang tua.

















