Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa dialog perdagangan yang berlangsung antara Indonesia dan Amerika Serikat telah mencapai titik temu yang positif.
Kesepakatan ini disebutnya berakar pada prinsip saling menghargai serta memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden di sela-sela kunjungannya di Washington DC pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Meski mengakui proses negosiasi tarif memakan waktu yang tidak sebentar, ia optimis dengan hasil yang diperoleh.
“Kita bahas masalah perdagangan di antara dua negara. Perundingan sudah cukup lama, artinya ketemu saling menguntungkan, saling menghormati saya kira bagus ya,” ujar Presiden.
Terkait keputusan terbaru Supreme Court (Mahkamah Agung) Amerika Serikat mengenai kebijakan tarif, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang stabil.
Pemerintah memilih untuk bersikap pragmatis dan menghargai kedaulatan hukum negara tersebut sembari terus memantau situasi.
“Kita siap menghadapi semua kemungkinan. Kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat, kita lihat perkembangannya,” tegas Presiden dalam keterangan yang dirilis, dikutip 23 Februari 2026.
Mengenai penerapan tarif sementara sebesar 10 persen, Kepala Negara melihat hal tersebut bukan sebagai hambatan besar, melainkan peluang yang masih bisa dimaksimalkan untuk kepentingan nasional.
“Saya kira menguntungkan ya. Kita siap untuk menghadapi segala kemungkinan,” tambahnya.
Selain membahas urusan antar-pemerintah (G-to-G), Presiden juga bertemu dengan jajaran pimpinan perusahaan investasi dunia. Dalam pertemuan tersebut, terpancar sinyal positif mengenai kepercayaan pasar global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Presiden mengungkapkan bahwa para investor mengapresiasi perbaikan iklim investasi di tanah air.
“Mereka menyampaikan mereka sangat tertarik sama Indonesia, mereka confident, mereka lihat iklimnya membaik terus, mereka positif terhadap ekonomi kita,” ungkapnya.
Langkah diplomasi ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ekonomi Indonesia tetap tangguh dan kompetitif di tengah fluktuasi kebijakan perdagangan internasional.

















