Gelombang protes mendatangi kantor pusat media Tempo pada Selasa, 14 April 2026. Ratusan kader Partai NasDem menggelar aksi unjuk rasa terkait sampul Majalah Tempo edisi terbaru yang menyoroti dinamika internal serta posisi politik Ketua Umum mereka, Surya Paloh.
Aksi ini dipicu oleh ilustrasi sampul Majalah Tempo edisi “PT Nasdem Indonesia Raya” periode 13-19 April 2026. Ilustrasi tersebut menggambarkan dugaan mulai surutnya pengaruh Surya Paloh di panggung politik nasional lantaran posisi NasDem yang berada di luar pemerintahan.
“Ratusan kader Partai NasDem unjuk rasa di kantor Tempo, Selasa, 14 April 2026. Mereka memprotes pemasangan karikatur sang Ketua Umum Surya Paloh di sampul Majalah Tempo edisi PT Nasdem Indonesia Raya 13-19 April 2026,” demikian keterangan resmi yang dirilis Tempo.co.
Laporan utama pekan ini mengungkap adanya usulan dari Presiden Prabowo Subianto untuk menggabungkan (merger) Partai Gerindra dan Partai NasDem. Ide tersebut mencuat pasca-pertemuan di Hambalang pada pertengahan Februari 2026. Namun, menurut sumber internal, Surya Paloh ditengarai belum menyambut usulan tersebut karena pertimbangan manfaat bagi partai.
Wakil Ketua Umum Partai NasDem yang juga Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, turut memberikan tanggapan yang lebih moderat saat ditemui di Kompleks DPR, Jakarta. Ia menilai kritik terhadap tokoh publik adalah hal yang wajar dalam demokrasi.
“Soal cover, tentu kita harus saling menghargai, saling menghormati satu sama lain ya gitu kan. Kritik hal yang biasa,” ujar Saan pada Selasa, 14 April 2026.
Meski memaklumi adanya kritik, Saan menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi agar tidak sampai merendahkan martabat tokoh yang diberitakan.
“Jadi apa, tidak perlu saling merendahkan ya terhadap satu sama lain. Apalagi dalam konteks ini adalah tokoh umum kan,” tuturnya menambahkan.
Lihat postingan ini di Instagram
Berseberangan dengan aksi massa di lapangan, unggahan Tempo mengenai protes tersebut justru menuai respons positif dari warganet. Kolom komentar dibanjiri dukungan terhadap independensi jurnalistik Tempo. Netizen menilai bahwa kebebasan pers dalam melakukan analisis politik, termasuk melalui karikatur, adalah bagian penting dari kontrol sosial.
Aksi unjuk rasa berakhir dengan pengamanan ketat dari pihak kepolisian, sementara isu mengenai merger dua partai besar ini terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat politik nasional.















