Langkah taktis Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) dalam menyediakan Hunian Sementara (Huntara) terbukti menjadi kunci keberhasilan pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus pada penyediaan hunian yang layak ini berhasil mengubah wajah penanganan darurat menjadi fase stabilisasi yang jauh lebih tertata.
Keberhasilan skema ini terlihat dari penurunan drastis jumlah pengungsi. Jika pada awal Desember 2025 tercatat sebanyak 2,1 juta jiwa yang berada di posko darurat, per 3 Februari 2026 angka tersebut menyusut tajam hingga tersisa 102.480 jiwa saja. Penurunan masif ini terjadi karena mayoritas warga terdampak kini telah menempati Huntara atau kembali ke rumah masing-masing yang telah dinilai aman untuk dihuni.
Perpindahan warga ke Huntara ini didukung penuh oleh penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) yang sangat progresif. Dengan sistem transfer langsung ke rekening penerima, masyarakat memiliki kemandirian untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal mereka. Di Sumatera Barat, penyaluran DTH telah mencapai 97,06 persen, disusul oleh Aceh sebesar 91,90 persen, dan Sumatera Utara yang menyentuh angka 86,12 persen.
Kualitas hidup di lokasi hunian sementara juga menjadi perhatian serius melalui pembangunan infrastruktur dasar. Satgas PRR telah memastikan ketersediaan sanitasi dan air bersih dengan membangun 666 sumur bor serta 168 unit MCK yang tersebar di wilayah terdampak. Dukungan ini berjalan selaras dengan pulihnya konektivitas jalan nasional dan operasional ratusan pasar rakyat yang kini kembali menggerakkan denyut ekonomi masyarakat.
Juru Bicara Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Amran, menekankan bahwa seluruh upaya ini bermuara pada pemulihan martabat dan kehidupan warga. Di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, ia menyatakan bahwa fokus utama pemerintah bukan sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi memastikan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan secara normal. Menurutnya, dengan terus menurunnya jumlah pengungsi dan mulai pulihnya aktivitas ekonomi, proses rehabilitasi dan rekonstruksi kini telah memasuki fase yang jauh lebih stabil.
Saat ini, sembari warga menjalani masa transisi di Huntara, pemerintah terus mematangkan persiapan pembangunan hunian tetap secara bertahap. Masyarakat pun diimbau untuk senantiasa menjaga fasilitas publik dan sanitasi yang telah disediakan agar proses pemulihan jangka panjang ini tetap berjalan lancar dan berkelanjutan.

















