Pernahkah Anda melintasi kemacetan di tengah Kota Purwakarta lalu bergumam, “Kenapa daerah padat bangunan ini dinamakan Kebonjahe?” atau “Mana sawahnya, kok isinya beton semua?”
Nama-nama daerah tersebut bukanlah sekadar label administratif. Sebagaimana catatan sejarah yang disusun oleh Budi Rahayu Tamsyah dan dirilis pada laman resmi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, nama-nama ini adalah “arsip alam” yang mencatat identitas wilayah kita sebelum berubah menjadi kota industri dan pemukiman padat. Inilah asal-mula di balik toponimi ‘Kebon’ dan ‘Sawah’ yang legendaris di Purwakarta.
Jejak ‘Healing’ Para Menak di Kebonkolot
Dahulu, Purwakarta adalah hamparan tanah yang sangat asri. Salah satu titik paling fenomenal adalah Kebonkolot di Kelurahan Nagrikaler. Sesuai namanya, ini adalah salah satu kebun tertua di wilayah kota.
Berdasarkan data sejarah literasi lokal, Kebonkolot bukan sekadar lahan pertanian, melainkan tempat rekreasi eksklusif bagi Bupati (Dalem) dan para bangsawan (Menak) Purwakarta pada masanya. Tak jauh dari sana, wilayah yang kini menjadi Perumahan Oesman dulunya merupakan kebun jeruk Garut milik R. Oesman Singawinata. Jejak-jejak ini membuktikan bahwa pusat kota kita dulunya adalah paru-paru hijau yang menyegarkan.
Wanayasa, Saksi Bisu Kejayaan Kopi Dunia
Bergeser ke wilayah pegunungan, nama Kebonkopi di Wanayasa dan Plered membawa kita kembali ke era Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Pada abad ke-19, Purwakarta—khususnya Wanayasa—adalah salah satu andalan penghasil kopi terbaik di Priangan.
Bukti sejarah yang terdokumentasi dengan baik menunjukkan bahwa gedung SDN 1 Wanayasa dulunya adalah gudang kopi raksasa. Bangunan tersebut menjadi saksi bisu kejayaan kopi lokal yang pernah menembus pasar internasional.
Strategi Logistik Perang Mataram hingga Swasembada Pangan di Pasawahan
Nama Kecamatan Pasawahan pun memiliki nilai sejarah yang heroik. Konon, sawah-sawah di wilayah ini sudah ada jauh sebelum ibu kota Karawang pindah ke Purwakarta pada 1831, atas inisiatif utusan Kerajaan Mataram untuk menyiapkan logistik perang di Batavia.
Seiring berkembangnya kota, perluasan sawah terus dilakukan melalui pembangunan Sawah Anyar dan Solokan Gede. Upaya visioner ini bertujuan agar warga Purwakarta mampu swasembada pangan dan tidak perlu “nguyang” (bergantung) beras ke daerah tetangga. Nama-nama seperti Sawahlega, Sawah Gedong, hingga Sawah Muncang menjadi bukti bagaimana masyarakat lokal menandai kearifan lingkungan mereka.
Kini, meski sebagian besar bentang alam tersebut telah bertransformasi menjadi area perkantoran, pertokoan, hingga pabrik, identitas toponimi tersebut tetap abadi. Menelusuri sejarah yang disajikan melalui laman resmi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Purwakarta memiliki akar kearifan lokal yang kuat dalam mengelola alam.
Informasi ini menjadi bagian penting bagi literasi publik agar generasi mendatang tetap mengenali jati diri wilayahnya, meskipun wajah kotanya telah berubah rupa dimakan zaman.

















